"Baiklah Papa akan mencoba mempercayai itu, Nak. Papa hanya ingin kamu bahagia, karena Papa sangat menyayangimu. Papa tidak ingin kamu sedih, atau seperti kemarin." "Ara tahu, Pa. Terimakasih, karena Papa menjadi Papa terbaik buat Ara selama ini. Ara sangat menyayangi Papa," ucap Ara lembut, bahkan saat ini tanpa sadar ia telah menetes air matanya. Begitu pula dengan Pak Nathan, pria paruh baya itu tidak dapat membendung rasa harunya. Rasanya seperti kemarin, ia menggendong Ara, mengajari gadis mungil itu berjalan dan menghabiskan banyak waktu dengan bermain. Kini di hadapannya, Pak Nathan telah melihat gadis mungilnya tumbuh menjadi wanita dewasa. Bahkan saat ini, gadis mungilnya telah menjadi seorang istri. Rasanya ia belum puas, memberikan seluruh kasih sayangnya sama Ara. "Papa jug