Pelukan Vanya terasa seperti selimut hangat di tengah badai. Hangat, lembut, dan menenangkan. Dalam dekapan diam yang tak meminta jawaban itu, Samuel akhirnya tertidur—untuk pertama kalinya sejak hari pemakaman ibunya. Tidur yang dalam, tanpa mimpi buruk, tanpa bayangan hitam yang biasanya mengejarnya tiap malam. Hanya gelap yang tenang, dan kehangatan tubuh Vanya di sampingnya. Jiwanya yang kalut, pikirannya yang berisik, seolah diberi jeda. Seperti hujan yang perlahan mereda, Samuel bisa beristirahat. Sesederhana itu… hanya dengan pelukan seseorang yang mencintainya dalam diam dan setia. Namun saat malam menyentuh titik paling sepi dan jam dinding menunjukkan pukul tiga lewat lima belas, Samuel terbangun. Gerak napasnya melambat saat menyadari ada yang berbeda. Sisi ranjang di sampingn