Tidak ada kata yang terucap. Kadang, tidak perlu ada kata yang terucap. Saat itu, keduanya hanya menikmati waktu mereka dalam pelukan satu sama lain, dan itu sudah lebih dari cukup. Untuk satu sore… Samael akhirnya mengangkat kepalanya dari bahu Ilsa ketika melihat Lyka berjalan mendekat. Kedua tangan Lyka menelangkup, mendekap sesuatu di dalam genggamannya. “Lyka mendapat sepasang jangkrik. Yang Mulia, bolehkah Lyka kembali ke istana dan mencarikan rumah untuk keduanya?” Gadis itu bertanya ke arah Samael. “Tentu saja, Lyka.” Samael membalas. Pria itu kemudian menoleh kearah Ilsa. “Malam sudah datang, sebaiknya kita semua kembali ke istana.” “Baiklah, Yang Mulia,” balas Ilsa dengan perasaan enggan. Namun ketika Samael akhirnya melepaskan genggaman tangannya, tidak ada yang bis