“Kau cantik sekali, Ilsa.” Satu kalimat yang singkat. Tapi membuat wajah Ilsa memerah mendengarnya. “Terima kasih, Master,” balas Ilsa spontan. “Sore ini aku bukan lah Master mu, melainkan Raja mu.” Samael mengulang perkataannya sambil meneruskan langkahnya. Da-da Ilsa menghangat oleh perkataan Samael. Benar, untuk sore ini, ia adalah wanita yang bebas. Berjalan menikmati kebun dengan Raja nya. “Tentu saja.” Ia membalas pelan dan mulai mengejar langkah Samael. “Kalau begitu, bolehkah saya menanyakan sesuatu, Yang Mulia?” Samael tidak langsung menjawab. Membuat Ilsa meremas jemarinya sendiri, takut jika ia telah menyinggung Sang Raja dengan ucapannya. Tapi pria itu kemudian menghentikan langkahnya dan menjulurkan siku kirinya ke arah Ilsa. “Gandeng tanganku, Ilsa,” ucapnya. Sebuah