Mobil hitam dengan interior mewah itu melaju mulus di jalan protokol ibu kota. Langit sore merambat gelap, dan lampu-lampu kota mulai menyala di antara gedung-gedung tinggi. Di dalam mobil, sunyi terasa begitu pekat. Tak ada musik. Tak ada percakapan. Hanya suara deru AC dan desahan napas pelan dari penumpangnya yang gelisah. Vanila duduk diam di kursi penumpang dengan tubuh tegak tapi bahu yang mengeras. Jari-jarinya saling mencengkeram erat di pangkuan, mengguratkan ketegangan yang tak bisa disembunyikan. Pandangannya terus menatap keluar jendela, meski tak benar-benar melihat apa pun. Beberapa jam lalu, ia menangis diam-diam di kamar saat Adrian belum masuk. Ia membungkam isaknya dengan bantal, mencoba menumpahkan rasa takut, panik, dan penyesalan yang menyerbu tanpa ampun. Tapi tangi