Vanila duduk kaku di kursinya. Matanya tak pernah benar-benar berani bertemu tatapan siapa pun, apalagi Adrian dan Andra. Telapak tangannya basah, lututnya lemas, sementara napasnya berat dan tidak teratur. Ia menyesal datang. Ia menyesal pernah mengiyakan permintaan Andra tempo hari. Semua ini—kesalahan fatal. Adrian tampak tenang. Duduk di sebelahnya dengan tubuh tegap, sesekali menanggapi obrolan hangat dari ayah Andra yang duduk di seberang meja. Tapi Vanila tahu, ada ketegangan yang dipendam dalam diamnya. Jemari tangan Adrian yang menggenggam tangannya di bawah meja terasa hangat, kuat, tapi juga... tegas. Seolah memberi isyarat: tetap di sini. Aku tahu semuanya. Sementara Andra hanya duduk bersandar, terlihat nyaman, melemparkan tatapan licik ke arah Vanila. Senyumnya terus bermai