Hari itu, Vanila kembali ke kampus setelah beberapa hari absen. Rambutnya diikat sederhana, hanya mengenakan blus putih dan jeans panjang yang santai, tapi tetap terlihat anggun. Ia berjalan melewati koridor fakultas dengan langkah tenang, walau pikirannya masih berat. Rasanya ada terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat. Ia nyaris kehilangan Adrian, ditimpa masalah dengan Andra, dan kini… semuanya masih menggantung. “Van!” Sebuah suara familiar memanggilnya. Vanila menoleh dan mendapati Tiara berjalan cepat ke arahnya. Wajah sahabatnya itu tampak jauh lebih lega dari terakhir kali mereka bertemu. “Lo ngapain ke sini? Gue pikir lo masih butuh istirahat,” kata Tiara sambil memeluk Vanila sebentar. Vanila tersenyum kecil. “Gue cuma mau ambil modul. Dosen nyuruh langsung. Eh lo sen