"Pak…,” Suaranya nyaris tak terdengar. Axel tersenyum miring, jemarinya menyentuh dagu Maira, mengangkat wajah itu agar tetap menatapnya. “Aku serius, Maira. Dan… kalau kamu mau tahu,” bisik Axel makin dekat hingga napas hangatnya terasa di bibir Maira. “Aku nggak keberatan kalau lebih dari beberapa kali.” Pipi Maira panas. Ia buru-buru memundurkan kepala, tapi jemari Axel menahan lembut di bawah dagunya. “Pak… ini kantor,” gumam Maira, mencoba menjaga nada suara tetap normal meski jantungnya berdetak terlalu cepat. Axel hanya terkekeh pelan. “Kantor atau bukan… kamu tetap istri aku. Dan aku bebas mengingatkan kamu tentang… permintaan kakek.” Maira menelan ludah. Permintaan kakek. Kata itu membuat kepalanya berputar. Ia tahu betul maksudnya: seorang penerus. Cicit untuk keluarga Dir

