“Lihat? Nggak seseram yang kamu pikirkan,” bisik Axel saat bibir mereka berpisah, dengan senyum yang penuh percaya diri. Maira masih terpaku di ujung sofa. Jemarinya menggenggam gelas cokelat panas yang sudah mulai kehilangan asap. Hangatnya sudah berkurang, tapi panas di wajahnya justru semakin menjadi-jadi. Baru beberapa menit lalu, Axel mencium bibirnya. Singkat, lembut, tapi cukup membuatnya gemetar sampai sekarang. “Pak…” suara Maira nyaris seperti gumaman. Axel tidak langsung menjawab. Pria itu hanya duduk menyamping, menatapnya lama-lama seperti sedang membaca isi pikirannya. “Kamu sadar nggak kalau kamu gemesin benget kalau lagi bingung begini?” Maira mengerutkan kening. “Saya nggak paham maksud Bapak.” “Maksudku…” Axel bergeser mendekat, membuat Maira tanpa sadar mundur sed

