Axel berhenti. Ia menatap Maira sembari menunggu, seolah memberi kesempatan terakhir bagi wanita itu untuk menarik diri. Namun Maira tetap diam, matanya berusaha menghindar, tapi tubuhnya tidak bergerak menjauh. “Maira…” suara Axel nyaris seperti hembusan napas. “Aku bukan tipe yang memaksa. Tapi aku juga nggak mau berpura-pura nggak menginginkan ini.” Maira menelan ludah. Jemarinya mencengkeram gelas di pangkuan. Sampai akhirnya Axel mengambil gelas itu dari tangan Maira dan meletakkannya di meja. Sentuhan jemarinya pada jari wanita itu membuat tubuhnya sedikit bergetar. “Lihat aku,” perintah Axel, lembut tapi tegas. Pelan-pelan Maira mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu di mata Axel. Bukan sekadar hasrat, tapi juga keyakinan bahwa pria itu tahu persis apa yang sedan

