Pagi itu, lift menuju lantai Divisi Utama terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidup Maira. Dia berdiri di sudut, memeluk tasnya erat-erat, menatap lantai lift untuk menghindari pantulan wajah sendiri di pintu baja yang mengilap. Bahkan aroma parfum di lift terasa menyesakkan. Bukan karena tidak enak, tapi karena itu mengingatkannya pada aroma tubuh Axel semalam—hangat, pekat, dan menempel di ingatannya. Aduh, kenapa aku malah kepikiran lagi? Apa yang terjadi semalam masih berputar di kepalanya. Tatapan Axel yang dalam, suara beratnya yang kadang terdengar seperti bisikan, dan sentuhan hangat yang membuat jantungnya tidak berhenti berdebar. Dan sekarang… semua itu seperti menempel di tubuh Maira. Bahkan cara berjalan pun terasa… berbeda. Ada rasa canggung setiap melangkah, seolah

