Maira baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih setengah basah, menetes di ujung-ujung helai. Sweater longgar warna krem yang pernah Axel belikan membungkus tubuhnya. Sementara celana pendek yang biasa Maira kenakan hanya di rumah menampakkan kulitnya yang masih lembap. Aroma sabun mandi masih menempel, bercampur dengan wangi shampoo yang samar. Axel duduk di sofa, bersandar santai, namun matanya tak pernah lepas mengikuti setiap langkah Maira. Di meja depan sofa ada secangkir kopi yang sudah setengah dingin, di samping ponsel yang berkedip karena notifikasi masuk. "Duduk," ujarnya datar, menepuk sisi sofa di sebelahnya. Nada suaranya membuat Maira spontan berhenti sejenak. "Kenapa?" tanyanya hati-hati, tapi tetap melangkah mendekat dan duduk di sampingnya. Axel menatapnya lu

