Beberapa jam kemudian, Rafael sengaja berjalan melewati area administrasi. Senyumnya tipis, tatapannya menyapu beberapa karyawan yang sedang bekerja. Dia berhenti di meja Dilla, salah satu sekretaris senior yang sering diminta mengatur jadwal pertemuan kakeknya. "Hai," sapanya dengan nada ramah. Dilla tersentak kecil. "Ah, Pak Rafael. Ada yang bisa saya bantu?" "Pagi ini Maira meeting sama Opa, kan?" Rafael bersandar santai di pinggir mejanya. "Kamu yang atur jadwalnya?" Dilla mengangguk. "Iya, Pak. Tadi pagi beliau minta langsung dari saya." "Hmm..." Rafael mengetuk pelan meja Dilla. "Topiknya... kamu tau nggak?" Nada suara Rafael terdengar ringan, tapi tatapan matanya tajam. Dilla menelan ludah. "Maaf, Pak. Saya nggak dengar. Pintu ruang rapat tertutup rapat waktu itu." "Baiklah

