Seribu Rahasia Maira

977 Kata

"Ya Tuhan, akhirnya." Maira melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah pelan tetapi kaku. Napasnya memburu, seolah paru-parunya menolak bekerja normal. Kata-kata Kakek Hartawan barusan masih terngiang di telinganya, menusuk di titik paling sensitif: pertanyaan apakah ia sudah hamil dan siap memberi keturunan untuk keluarga Dirgantara. Tangan Maira dingin, seperti baru saja memegang sebongkah es. d**a sesak, dan setiap langkah terasa berat. Seolah lantai marmer itu berubah menjadi lumpur yang menarik kakinya. Maira sedikit menunduk, berharap bisa lolos tanpa kontak mata dengan siapa pun. Namun, ia bisa merasakan beberapa pasang mata mengikutinya. Dari sudut pandang, Maira bisa menangkap beberapa karyawan melirik, lalu cepat-cepat berpaling. Ada juga yang pura-pura sibuk dengan do

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN