Kakek yang Terpesona

998 Kata
Suasana rumah keluarga Dirgantara malam itu terasa berbeda. Biasanya terang dan tegas-menyiratkan kekuasaan dan kejayaan keluarga konglomerat itu. Malam ini, penerangan di ruang utama sengaja dibuat lebih hangat. Lampu gantung kristal disetel lebih redup. Membuat cahaya keemasan menyelimuti ruangan dengan suasana tenang, hampir seperti menjelang hari raya. Tidak ada tamu kehormatan. Tidak ada rapat penting dengan para komisaris. Namun Hartawan, sang kepala keluarga, memilih mengenakan batik sutra terbaiknya. Warnanya cokelat tua keemasan, mengilap di bawah cahaya lampu. "Siapkan teh melati favoritku. Jangan lupa kue-kue di bakery langganan." Sore tadi Hartawan bahkan sempat turun langsung ke dapur untuk memastikan semuanya sempurna. Lelaki tua itu bahkan mengawasi semua pembantu yang bekerja. "Pak, Tuan Axel sudah sampai," ucap Pak Salman pelan dari ambang pintu. Hartawan mengangguk, senyumnya kecil tetapi sarat makna. "Suruh masuk." Tak lama, suara langkah sepatu terdengar dari arah lorong utama. Tegas, cepat, dan... jelas menunjukkan ketidaksabaran. "Kenapa mendadak sekali, Kek?" tanya Axel begitu memasuki ruang tamu. Tidak ada basa-basi. Tak ada formalitas. Axel segera melepas jas hitam yang melekat di tubuh tingginya. Lalu melemparkannya sembarangan ke punggung kursi. Wajah Axel tampak lelah, dengan sedikit gurat jengkel. Rambutnya berantakan, tetapi sama sekali tak mengurangi ketampanannya. "Aku baru selesai meeting sama klien Jepang. Bahkan belum sempat ganti baju," keluhnya sambil duduk. "Aku tahu," jawab Hartawan kalem. "Makanya aku tunggu sampai malam. Aku tidak ingin mengganggu jadwal sibukmu... terlalu awal." Axel mendengus pelan, lalu mengambil secangkir teh yang telah disediakan. Ia menyesap sedikit, tak benar-benar menikmatinya, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. "Ini soal wasiat lagi?" Hartawan tersenyum tipis. "Bukan. Ini soal... calon istrimu." Axel mendongak cepat. Sorot matanya berubah. "Kakek sudah menemukan satu?" tanyanya, separuh heran, separuh khawatir. Hartawan mengangguk pelan, bibirnya menyunggingkan senyum yang tidak biasa. Ada kebanggaan di sana. "Tunggu. Kakek yang memilih sendiri?" Axel mengernyit. "Kenapa tidak?" Hartawan menanggapi santai. "Kamu menyuruh sahabatmu memilih dan hasilnya? Kacau. Tidak ada satu pun yang membuatmu tertarik. Sekarang biar aku yang turun tangan." Axel tertawa tipis, sarkastik. "Dan siapa wanita beruntung yang kakek pilih?" Hartawan menyandarkan punggung ke sandaran kursi. "Kamu akan bertemu dengannya sekarang." Ekspresi Axel berubah. Ia mulai duduk lebih tegak, dahi berkerut. "Sekarang?" ulangnya, ragu. "Ya," jawab Hartawan mantap. Ia lalu menepuk tangannya dua kali. Suara berirama itu menggema lembut di ruangan luas tersebut. Tak lama kemudian, pintu kayu besar terbuka pelan. Seorang gadis masuk perlahan, langkahnya ragu tapi penuh keberanian. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang sedikit kebesaran dan rok panjang warna krem. Rambutnya diikat sederhana ke belakang. Wajahnya tampak gugup, tapi berusaha tetap tenang. Begitu matanya bertemu dengan sosok pria yang duduk di seberang-raut wajahnya berubah. Begitu pula Axel. Maira. Mereka saling menatap dalam diam. Udara seketika menegang. Wajah Axel langsung mengeras. Sedangkan Maira, terlihat seperti baru saja diseret masuk ke dalam sandiwara tak masuk akal yang tak pernah ia daftarkan diri. "Kakek... ini serius?" suara Axel nyaris tak terdengar, tetapi jelas penuh tekanan. Hartawan tak menjawab langsung. Ia justru tersenyum, menikmati reaksi cucunya yang untuk pertama kalinya-benar-benar tak tenang. "Namanya Maira Maharani," kata Hartawan perlahan sambil melirik gadis itu dengan hangat. "Hari ini dia menyelamatkan nyawaku. Lebih dari itu, dia menyelamatkan keyakinanku bahwa masih ada orang muda yang punya hati." Axel memicingkan mata. "Kakek bilang... dia menyelamatkanmu?" "Iya," jawab Hartawan sambil mengangguk pelan. "Ada penjambret. Dia kejar sendiri. Tendang si penjahat dari motor dan kembalikan tasku." "Tas yang berisi surat-surat penting, yang sayangnya aku pilih untuk dibawa sendiri." Axel menatap Maira seolah tak percaya. Sorotnya sulit ditebak. Antara terkejut, heran, dan... curiga. Maira menunduk, suaranya pelan, "Saya... saya nggak tahu kalau Kakek Hartawan itu adalah kakeknya Pak Axel." Hartawan terkekeh. "Dan itulah yang membuatku menyukai Maira. Dia membantu tanpa tau siapa aku. Murni karena empati, bukan karena nama Dirgantara." Axel bersandar ke sofa dengan napas panjang. "Kakek tahu dia staf di perusahaanku?" "Baru tahu setelah dia menyebutkan tempat kerjanya. Tapi semakin tau, aku semakin yakin." Axel menyipitkan mata. "Yakin apa?" "Dia gadis yang tulus. Tak punya orang tua. Tinggal bersama adiknya yang masih sekolah. Gaji kecil, tapi masih bisa bantu hidup bibinya yang janda." Axel menggelengkan kepala, seperti tidak percaya. "Kakek mau aku menikahi seorang staf junior?" "Kenapa tidak?" tantang Hartawan. Axel mendengkus, membuat Hartawan mengulum senyum yang tak bisa ditebak. "Bahkan, dia baru saja dapat surat peringatan karena menumpahkan kopi ke jas mahalku beberapa hari lalu," jelas Axel kesal. Maira nyaris menahan napas. Hartawan malah tertawa pelan. "Takdir memang punya selera humor yang indah, bukan?" Axel berdiri. "Kakek... ini bercanda, kan?" "Tidak." Hartawan tetap tenang. "Ini kesempatan." "Dia nggak tahu apa-apa tentang dunia kita." "Dan justru karena itu dia istimewa. Karena dia akan melihatmu sebagai lelaki... bukan sebagai CEO." Axel diam. Lalu berbalik menatap Maira yang masih berdiri gugup di dekat pintu. "Apa kamu tau kenapa kamu diundang ke sini?" tanya Axel dengan suara yang datar. Maira mengangguk pelan. "Kakek Hartawan bilang ingin membalas kebaikan saya. Tapi saya nggak nyangka..." "Kamu juga nggak nyangka akan berdiri di hadapan orang yang hampir memecatmu kemarin?" Napas Maira tercekat. Axel melangkah perlahan mendekati Maira. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi sorot matanya menusuk. "Kamu pasti takut, kan?" Maira menggigit bibir bawahnya. "Sedikit..." Axel berhenti hanya satu langkah darinya. "Lalu kenapa kamu tetap datang malam ini?" Butuh beberapa detik sebelum Maira menjawab. Suaranya lirih, tetapi jelas. "Karena saya diajari untuk nggak menolak ajakan orang yang saya hormati. Meskipun saya tau, saya mungkin nggak diinginkan di ruangan ini." Kalimat itu mengendap di udara, menghantam keras ke d**a Axel. Jantungnya berdegup aneh. Axel bukan pria yang gampang tersentuh. Namun, ada sesuatu dalam nada bicara gadis itu... sesuatu yang tulus. Hartawan bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah pintu. "Aku akan tinggalkan kalian sebentar. Bicaralah. Setuju atau tidak, itu urusan kalian. Tapi ingat..." Ia menoleh pada Axel, suaranya kembali serius. "Jika kamu menolak gadis ini, wasiat itu tetap berlaku. Dan waktumu tinggal sedikit." Pintu menutup. Sunyi. Axel dan Maira kini hanya berdua. Keduanya sama-sama diam, tenggelam dalam kebingungan yang tak bisa dijelaskan. Axel akhirnya bersuara. Pelan, tapi tegas. "Kalau aku ajukan kontrak pernikahan saru tahun dengan bayaran satu milyar, kamu mau terima?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN