Maira duduk sendiri di bangku halte kecil dekat rumah kos-nya. Lampu jalan temaram menemani pikirannya yang kusut.
Malam itu hangat, tetapi hatinya beku. Kepala Maira penuh oleh angka. Bukan gaji. Bukan utang, tapi satu angka yang terlalu besar untuk jadi nyata-dan terlalu berbahaya untuk diabaikan.
Satu miliar.
Tawaran Axel Dirgantara. Untuk menikah dengannya selama satu tahun. Kontrak, legal, tetapi... tanpa cinta. Tanpa sentuhan juga perasaan.
"Kamu akan mendapatkan satu miliar rupiah," kata Axel waktu itu, dingin dan datar, seolah menyebut harga sebuah mobil bekas.
"Kita akan menikah secara sah. Setelah satu tahun, bercerai. Nggak perlu ada drama."
Maira belum sempat menjawab waktu itu. Lidahnya kelu, pikirannya berisik. Dan kini ia duduk di halte, mencoba menyusun nalar yang remuk.
Ponsel di saku kecil tasnya tiba-tiba bergetar. Nama "Bibi Rini" muncul di layar.
"Assalamu'alaikum, Bi..."
"Wa'alaikumussalam. Nak. Maaf bibi ganggu malam-malam." Suara sang bibi terdengar cemas, bahkan sedikit gemetar.
"Nggak apa-apa, Bi. Kenapa?"
"Surat dari bank datang lagi tadi siang, Maira. Rumah kita... kalau nggak dilunasi dalam minggu ini, akan disita. Mereka bilang aturannya sudah berubah, sekarang semua harus lunas."
Jantung Maira mencelos.
"Lelang rumah?" Suaranya pelan, nyaris berbisik.
"Iya, Nak. Bibi bingung harus gimana. Adik kamu masih sekolah. Bibi juga nggak punya tempat lain untuk tinggal..."
Maira menahan napas. Matanya mulai berkaca-kaca. Rumah itu bukan cuma bangunan. Itu satu-satunya tempat ia bisa sebut 'rumah' sejak kecil.
Semenjak yatim piatu, hanya Bibi yang mau menampung. Memperlakukan mereka seperti anak sendiri dengan segala kekurangan yang ada.
Maka ketika suaminya meninggal, Maira mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Apalagi adiknya masih di sana, hingga nanti akan menyelesaikan sekolah.
"Bibi... tenang, ya. Maira usahakan. Pokoknya jangan khawatir."
"Kamu yakin, Nak? Jangan terlalu memaksakan diri."
"Saya yakin, Bi. Saya janji. Percaya sama saya, ya?"
"Bibi percaya. Tapi kamu juga harus jaga diri, Maira."
Setelah telepon ditutup, Maira menatap langit malam. Bulan sabit terlihat samar di balik awan. Malam itu hening, tapi isi hati Maira ribut. Dia menggenggam ponsel erat-erat.
Kadang, hidup memang tak memberi pilihan yang benar-benar ideal. Dan malam itu, Maira akhirnya memilih.
***
Dua hari kemudian, mereka bertemu.
Restoran privat di lantai atas hotel bintang lima. Tempat yang mewah dan dingin, cocok dengan suasana hati Axel.
Axel duduk lebih dulu. Wajahnya tegas, seperti biasa. Dasi abu-abu rapi membalut kemeja putih bersih. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang belum diminum.
Maira masuk sepuluh menit kemudian. Blus putih dan rok panjang navy membalut tubuhnya dengan sopan. Rambut yang dikuncir rendah. Wajahnya tampak ragu, tapi tetap tenang.
"Silakan duduk," ujar Axel tanpa basa-basi.
Maira duduk perlahan. Ia menatap Axel, lalu menunduk sebentar sebelum bicara.
"Pak Axel..."
Maira menatap wajah Axel dengan hati-hati. Bagaimanpun juga, lelaki ini adalah atasannya di kantor. Dan nasib mereka tergantung kepada kesepakatan hari ini.
"Sudah kamu pikirkan?" tanya Axel dengan raut wajah datar. Ekspresi yang selalu ditakuti oleh para karyawan di kantor.
"Sudah, Pak," jawab Maira gugup. Tamgannya tiba-tiba berkeringat dingin. Gadis itu bahkan memainkan ujung kemejanya dari balik meja.
"Dan?"
"Saya setuju."
Axel mengangguk tipis. "Baik. Pengacara akan menyiapkan kontrak. Lima ratus juta akan masuk ke rekening kamu setelah pernikahan. Sisanya setelah proses perceraian."
Maira terbelalak. Gadis itu refleks menutup mulut karena tak menyangka akan mendapatkan uang itu secepat mungkin.
"Jangan norak, Maira," ejek Axel. Entah mengapa setiap kali bertemu dengan gadis itu, hawa-nya selalu menyebalkan.
Jika bukan karena permintaan kakek, maka Axel sudah akan menjauhkan Maira dari hidupnya.
"Maaf, Pak. Saya belum pernah... memiliki uang sebanyak itu," ucap Maira polos.
Axel tergelak dengan ekspresi mengejek. Hal itu membuat Maira sedikit terpancing emosi. Namun, dia memegang kartu As Axel yaitu kakek Hartawan.
"Oke, saya paham," lanjutnya.
Kali ini Axel berusaha untuk serius. Jangan sampai perusahaan jatuh ke tangan Rafael. Bukan karena dia serakah, tetapi karena adiknya belum mampu.
Rafael bisa menghancurkan semua yang dia bangun dengan susah payah. Adiknya harus banyak belajar sebelum dipercaya memegang kekuasaan.
"Pak, saya ada permintaan."
"Sebutkan!"
"Saya ingin beberapa hal dijelaskan dulu, Pak."
"Silakan." Axel menyandarkan tubuhnya di kursi sembari melipat tangan. Matanya menatap Maira dengan lekat.
"Tentang status saya... di kantor dan di rumah."
Axel menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Di rumah kamu jadi istri sah, tapi pernikahan kita akan dirahasiakan. Di kantor, kamu tetap staf biasa. Kita nggak saling mengenal secara pribadi."
"Saya gak jadi dipecat, Pak?"
"Ya nggak jadilah. Apa kamu mau saya pecat? Toh kamu bakalan dapat uang banyak."
"Oh, jangan, Pak. Setelah kontrak selesai, saya masih butuh uang untuk bertahan hidup. Tolong jangan pecat saya sebelum dapat pekerjaan baru," mohon Maira.
Axel menjawabnya dengan anggukan. Lelaki itu kembali menatap Maira dengan tajam. Sengaja ingin menakut-nakuti.
"Ada lagi?" tantang Axel.
"Soal batasan."
"Nggak akan ada sentuhan fisik," jawab Axel cepat. Lelaki itu bersungut dalam hati. Jangankan menyentuh, melihatnya saja enggan.
"Saya harap itu nggak berubah di tengah jalan, Pak."
"Aku CEO, bukan predator. Aku menghormati batasan."
"Karena saya dengar gosip di kantor... tentang Bapak," ujar Maira hati-hati.
Mendengar itu, Axel tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Maira.
"Ada yang bilang Bapak dingin karena... ada masalah sebagai laki-laki."
Axel menegang. "Apa maksudmu?"
Maira cepat-cepat melambaikan tangan.
"Bukan saya yang bilang, Pak! Tapi banyak yang ngomong. Katanya Bapak itu terlalu kaku, nggak pernah dekat sama perempuan. Dan katanya Bapak.... disfungsi."
Wajah Axel memerah. "Gosip itu nggak benar."
"Saya percaya, Pak. Tapi saya perlu tau langsung dari Bapak."
"Untuk apa?"
"Supaya saya merasa aman tinggal satu atap sama Bapak. Jangan sampai saya lagi masak, tiba-tiba Bapak berdiri di belakang saya dan bilang 'waktunya uji coba sebagai suami'."
Axel hampir tersedak kopinya.
"Apa-apaan itu?"
Maira berusaha menahan senyum.
"Maaf, Pak. Saya hanya... ingin semuanya jelas. Saya orang biasa. Nggak bisa hidup di abu-abu."
Axel menatapnya tajam. "Aku sehat. Fisik maupun mental. Kalau kamu mau membuktikannya sekarang, aku bisa."
"Eh, nggak perlu sampai segitunya, Pak!" Maira buru-buru menutup mulutnya. "Saya percaya, sumpah. Bapak nggak usah live demo."
Axel menghela napas panjang. "Enam bulan. Kita profesional. Kamu dapat uangmu. Aku dapat warisanku. Lalu kita cerai, deal?"
Maira mengangguk pelan. "Deal."
Axel berdiri. "Persiapkan dirimu. Kita menikah Jumat ini."
"Baik, Pak."
Maira berdiri juga. Tapi sebelum pergi, ia melirik Axel dan berkata pelan,
"Semoga gosip tentang Bapak beneran salah. Soalnya kasihan banget kalau 'itunya' beneran nggak bisa apa-apa."
Axel membeku di tempat.
"MAIRA!"
"Maaf, Pak! Saya cuma bercanda!"
Maira langsung kabur keluar dari ruangan, meninggalkan Axel yang menatap punggungnya dengan rahang mengeras dan tangan mengepal.
"Gadis ini benar-benar..." gumamnya lirih.