Pernikahan Diam-diam

1226 Kata
Udara di kawasan Puncak siang itu terasa lebih sejuk dari biasanya. Angin menyapu lembut dedaunan pinus. Menyisakan gemerisik yang tenang di antara pepohonan tinggi yang melingkupi villa bergaya kolonial berwarna putih gading. Di dalam villa megah itu, suasana tampak sibuk tetapi tetap sunyi. Seolah sedang mempersiapkan sesuatu yang sangat sakral. Di salah satu kamar besar dengan jendela terbuka menghadap hamparan kebun mawar, Maira duduk di depan cermin besar dengan gugup. Wajahnya hampir tak ia kenali sendiri. Make-up artist yang dibawa langsung dari Jakarta bekerja dengan telaten. Membingkai wajah Maira dengan riasan flawless yang tetap menonjolkan kesan alami. "Maira, kamu cantik sekali," bisik asisten pribadi Pak Hartawan yang membantu menata kebaya. Kebaya putih bersih yang membalut tubuh Maira adalah rancangan desainer ternama. Bordiran halus dengan benang perak menghiasi bagian leher dan lengan, sementara ekornya menjuntai anggun hingga menyapu lantai. Rambut Maira disanggul rapi. Dihiasi hiasan bunga melati segar yang menebarkan aroma lembut. Maira menelan ludah. Tangannya gemetar saat menyentuh kain di dadanya. "Apa... ini nggak berlebihan, Mbak? Ini cuma akad nikah. Nggak ada tamu juga." "Justru karena nggak ada tamu, semuanya harus sempurna. Ini permintaan langsung dari Pak Hartawan. Beliau bilang ini bentuk penghargaan untuk kamu." "Dan ini bukan pernikahan biasa, Maira. Kamu akan jadi istri dari pewaris keluarga Dirgantara." Maira diam dengan hati yang berdebar. Bukan karena bahagia, tapi karena ia masih belum bisa benar-benar percaya dengan apa yang akan dihadapi. Di sisi lain villa, Axel duduk di ruang tamu bergaya vintage bersama Pak Salman dan penghulu yang sudah hadir sejak pukul sepuluh. Axel mengenakan kemeja putih dengan peci beludru hitam di kepala. Wajahnya kaku. Dingin. Seolah ini bukan hari besar dalam hidupnya. "Berkas-berkas sudah siap semua, Tuan Axel," ucap Pak Salman sambil menyerahkan map berisi dokumen pernikahan. "Pak Hartawan juga menitipkan mahar. Cincin berlian tiga karat dari Belgia." Axel mengangguk. "Mana cincinnya?" Pak Salman membuka kotak kecil beludru hitam dan menampakkannya. Sebuah cincin dengan berlian bening yang memantulkan cahaya matahari dari sela tirai. "Cincin ini akan jadi milik Nona Maira sebentar lagi," ujar Pak Salman lirih. Axel tidak menjawab. Ia hanya menatap cincin itu kosong, lalu berdiri ketika mendengar langkah-langkah pelan dari arah tangga. Dan di situlah Maira muncul. Langkahnya pelan, anggun, dengan kepala sedikit tertunduk. Namun, saat ia mengangkat wajah-semua orang di ruangan itu membeku, termasuk Axel. Gadis itu... terlalu cantik. Bukan karena riasannya, bukan karena kebaya mahalnya. Namun, karena aura tenang dan tulus yang terpancar dari wajah. Sesuatu yang selama ini tak pernah Axel sadari. Dan saat itu juga, Axel tertegun. Tiba-tiba wajah-wajah perempuan lain berkelebat di kepala. Wanita-wanita cantik yang dulu mendekatinya, yang sempat ia rayu, yang ingin ia miliki. Sayangnya, tidak satu pun dari mereka pernah ia sentuh. Tak satu pun yang benar-benar ia izinkan mendekati batas. Bukan karena ia suci. Tapi karena pesan ibunya dulu selalu membayang. "Jangan pernah rusak hidup perempuan, Nak. Lelaki sejati tau kapan harus menahan diri." Lucunya, ibunya sendiri malah meninggalkan mereka tanpa penjelasan. "Ehem." Axel terbatuk, tak ingin menunjukkan rasa tertarik. Ia memilih tetap diam, menunduk sedikit sebagai formalitas. Lalu kembali menegakkan tubuh dengan ekspresi dingin. Tepat ketika penghulu hendak membuka prosesi, suara langkah kaki dan suara tongkat terdengar dari arah pintu utama. Semua kepala menoleh. Hartawan Dirgantara masuk, mengenakan setelan batik sutra berwarna gelap. Diiringi beberapa staf laki-laki yang masing-masing membawa baki besar berisi seserahan. Ada satu baki berisi pakaian lengkap, lainnya berisi perhiasan emas. Satu nampan penuh dengan kosmetik branded. Satu lagi berisi alat ibadah premium. Terakhir, uang tunai dua ratus juta cash. Semua itu-dihias elegan, penuh bunga segar, dan pita emas. Maira membeku di tempat. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang ia lihat. "K-kakek datang...?" gumamnya pelan, nyaris tak bersuara. Hartawan menatapnya lembut, lalu mendekat dan berkata, "Ini hakmu sebagai pengantin wanita. Aku tak mau pernikahan cucuku berlangsung seadanya. Kamu layak mendapatkan semua ini." Maira tak bisa berkata-kata. Hatinya bergetar. Tak pernah ia bayangkan, seseorang seperti Hartawan Dirgantara akan datang sendiri dan membawa seserahan untuknya. Rasanya... terlalu mewah untuk sebuah akad yang katanya hanya formalitas. Prosesi akad nikah dimulai. Maira duduk di samping Mbak Ririn, sementara Axel duduk di hadapan penghulu dan dua saksi dari pihak keluarga Hartawan. Semua berjalan cepat, ringkas, tapi sah secara hukum agama dan negara. "Axel Dirgantara bin Bagas Dirgantara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Maira Maharani binti almarhum Ridwan, dengan mas kawin cincin berlian seberat tiga karat dibayar tunai." Axel menarik napas, lalu menjawab lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Maira Maharani binti almarhum Ridwan dengan mas kawin tersebut tunai." Maira menunduk, menahan napas dan debar yang membuncah dalam dadanya. Tangannya dingin. Tapi segalanya resmi. Mereka-resmi menjadi suami istri. Setelah semua selesai, dan cincin melingkar manis di jari manis Maira, Axel berdiri. "Aku harus pergi," katanya pada semua orang tanpa menoleh ke Maira. "Mau kemana?" tanya Hartawan dingin. "Ada urusan yang harus aku bereskan. Radit sudah menunggu di mobil." Maira hanya bisa menatap punggung Axel yang menjauh. Tak ada senyum. Tak ada ucapan selamat. Bahkan sekadar tatapan pun tidak. *** Malam harinya, Maira tiba di apartemen mewah di bilangan SCBD. Apartemen itu kini menjadi rumah barunya. Meski lebih mirip tempat penampungan untuk istri kontrak yang tak diinginkan. Axel membuka pintu dengan malas, nyaris enggan. Ia tak bicara sepatah kata pun, hanya melirik sekilas sebelum berbalik dan melangkah masuk. Membiarkan Maira menyeret koper kecilnya sendiri seperti pembantu. Interior apartemen itu begitu mewah dan dingin-sama seperti pemiliknya. Gaya minimalis, warna netral, dan kaca besar yang memamerkan langit Jakarta. Tapi tak ada kehangatan di dalamnya, hanya kesunyian yang menusuk. "Kamar kamu di sebelah kanan. Sudah dibereskan," kata Axel tanpa menoleh, matanya sudah tertuju pada laptop di meja kerjanya. "Makasih, Pak," bisik Maira pelan, nyaris tak terdengar. Axel tetap tak peduli. Ia mengetik entah apa, sebelum menambahkan dengan nada hambar. "Kamu bebas pakai semua fasilitas, tapi jaga jarak. Kita jalani ini sesuai kontrak. Jangan harap lebih." Maira mengangguk pelan tetapi api hatinya runtuh. Ia tahu posisi, istri di atas kertas, tanpa ruang di hati. Namun tetap saja, bagian kecil dalam dirinya masih berharap akan dihargai... walau hanya sedikit. Axel menutup laptopnya pelan, lalu mendongak menatap Maira dengan tajam. Matanya penuh kejengkelan yang bahkan tak ia sembunyikan. "Apa yang kamu tunggu? Tepuk tangan? Atau pelukan?" Maira mengerjap, gugup. "Saya... cuma-" Axel bangkit dari kursi, lalu menyelipkan tangan ke saku jasnya. Dengan gerakan kaku, ia mengeluarkan sebuah kartu debit platinum berwarna hitam. Lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja di hadapan Maira. "Ini," ucapnya datar. "Nafkah untukmu sebagai istri. Aku pikir ini cukup untuk satu tahun." Maira menatap kartu itu seakan tak percaya. Ujung jarinya gemetar saat menggapainya. Namun kartu itu justru meluncur dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan suara nyaring yang menusuk. Seketika, tubuh Maira membeku. Wajahnya pucat, lalu buru-buru membungkuk dengan canggung untuk mengambil kartu itu. Semuanya terasa memalukan. Terkutuk. Seolah ia baru saja menjual diri sendiri. "Bahkan pegang kartu aja kamu nggak becus?" ejek Axel tajam. Maira menunduk dalam, menahan malu dan sakit yang menyesak. Tapi Axel belum selesai. "Kenapa kamu masih berdiri di sini? Apa kamu pikir kita akan menghabiskan malam pertama bersama?" Maira tercekat. "Nggak, Pak. Saya cuma-" Axel tertawa tipis, merendahkan. "Jangan mimpi, Maira. Aku nggak tertarik sama perempuan ceroboh macam kamu." Kalimat itu menampar lebih keras daripada pukulan. Maira menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir tumpah. Maira menunduk dalam-dalam, memeluk kartu yang kini terasa seperti selembar penghinaan paling telanjang yang pernah ia terima. Dan Axel? Lelaki itu bahkan sudah memunggunginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN