Hari pertama tinggal serumah sebagai suami istri, tetapi rasanya seperti tinggal bersama atasan yang tak pernah ramah.
Pagi itu, Maira duduk di meja makan apartemen, mengenakan piyama panjang dan rambut masih terikat longgar. Ia baru saja menuang teh ke cangkir saat Axel muncul dari kamar-rapi dalam jas kerja, wajah tanpa senyum.
Tanpa sapaan, pria itu meletakkan selembar kertas di hadapannya. Matanya tajam, suaranya datar.
"Ini. Baca dan pahami."
Maira mengangkat alis. "Apa ini, Pak?"
"Aturan hidup bersama. Dan ini bukan diskusi."
Maira membaca cepat. Isinya:
1. Tidak mencampuri urusan pribadi Axel.
2. Dilarang masuk ke kamar Axel tanpa izin.
3. Tidak menyentuh barang-barang pribadi.
4. Tidak mengganggu Axel di kantor kecuali urusan pekerjaan.
"Saya harus tanda tangan?" tanya Maira pelan.
Axel hanya menatapnya dingin. "Nggak perlu. Tapi kamu harus patuhi. Kalau sekali kamu langgar, aku punya alasan kuat buat batalkan semua ini."
Maira menunduk. "Saya mengerti."
Tanpa menambahkan sepatah kata pun, Axel berbalik dan pergi. Hanya suara pintu apartemen yang tertutup dingin sebagai penutup percakapan mereka.
***
Sore itu, Maira memutuskan mandi untuk menyegarkan badan. Ia masih asing dengan tata letak kamar mandi yang bergaya modern.
Tanpa pikir panjang, Maira memutar keran logam yang tampak mengilap.
"Aaaahhh!"
Teriakannya menggema keras.
Air panas mengguyur langsung kulitnya. Bahunya memerah, tubuhnya refleks terpeleset hingga terduduk di lantai kamar mandi. Kesakitan, ia tak mampu bangkit.
Dari ruang kerja, Axel mendengar jeritan itu dan segera berlari.
"Maira?!"
Axel membuka pintu kamar mandi tanpa pikir panjang, dan-
"Maira?!" Suaranya menegang. "Astaga..."
Pandangan matanya langsung tertumbuk pada tubuh Maira yang tergeletak nyaris tanpa penutup. Kulitnya yang putih bersih tampak memerah dan basah.
Axel refleks memalingkan wajah, lalu melemparkan handuk ke arahnya.
"Tutupi dirimu! Astaga, kamu kenapa?!"
"S-saya... air panas... saya salah putar..."
Dengan cepat, Axel melangkah masuk, untuk membantu Maira berdiri. Tanpa sadar, tangannya menyentuh kulit gadis itu yang lembap dan hangat.
Begitu mereka bersentuhan, Axel terdiam sejenak. Ada dorongan alami dalam diri yang tak ia pahami, seakan tubuhnya memberi reaksi otomatis.
Axel menepis perasaan itu cepat-cepat. "Sialan," gumamnya pelan.
"Kamu gila?! Siapa yang buka keran air panas segede itu?!"
Maira meringis, menahan perih. "Saya nggak tahu. Saya kira itu keran air dingin."
Axel mendekatkan wajahnya tanpa sadar, lalu langsung menarik diri seketika.
"Kamu ceroboh banget. Di kantor ceroboh, di rumah juga nyusahin."
Maira tertunduk. Luka fisik rasanya lebih ringan dibanding luka dari nada suara Axel.
Axel menghela napas berat, lalu membungkuk dan memapah Maira keluar kamar mandi. Jantungnya masih berdetak keras karena sentuhan tak disengaja tadi.
Axel menggigit lidah, mencoba memulihkan ketenangannya. Setelah membawa gadis itu ke sofa, dia mengambil salep dari kotak P3K.
Dengan gerakan cepat, Axel mengoleskan obat di kulit Maira. Sesekali ia menarik napas panjang-entah karena kesal, atau karena menahan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya.
"Besok kamu tetap kerja. Jangan anggap kejadian ini alasan buat bermalas-malasan."
"Nggak, Pak. Saya tetap masuk," jawab Maira cepat.
Axel bangkit, mengambil jas, lalu masuk ke kamar tanpa menoleh. Maira menggigit bibirnya. Air mata sempat menggantung, tapi ia telan bersama pahitnya situasi.
***
Di kantor, mereka benar-benar seperti tak saling kenal. Axel kembali pada versinya yang galak dan nyaris tak manusiawi.
Setiap kali Maira mengantar dokumen, pria itu hanya menangguk tanpa bicara. Mereka berdua menjaga jarak seperti dua kutub yang saling menolak.
Namun tak semua orang buta. Gosip mulai menyebar.
"Lo denger nggak? Si Maira tuh, katanya udah hampir dipecat. Tapi tau-tau lanjut kerja. Katanya sampe nangis-nangis minta ampun ke Pak Axel."
"Iya, dia kan tulang punggung keluarga. Mungkin aja dia sujud atau apalah. Gue juga nggak ngerti kenapa Pak Axel berubah pikiran."
"Padahal dia masih pegawai percobaan, kan? Kok bisa tuh, tiba-tiba diselamatin?"
"Ada-ada aja. Muka pas-pasan, kerja ceroboh, eh... bisa bertahan. Ajaib sih."
"Apa jangan-jangan... dia deket sama bos?"
"Heh, jangan GR! Mana mungkin Pak Axel mau sama cewek kayak dia. Tapi ya, nggak nutup kemungkinan sih. Di balik meja, bisa aja ada drama."
Maira hanya bisa mendengarkan dari bilik kerjanya. Gadis itu tak bisa membela diri.
Membongkar kebenaran? Mustahil. Itu hanya akan memperkeruh semuanya.
Maira menghela napas. Biarlah. Asal kontrak ini selesai dan keluarganya bisa hidup lebih layak, ia rela dipandang rendah.
***
Malam harinya, suasana apartemen sunyi. Maira duduk di balkon kecil, memandangi kerlip lampu kota.
Pintu balkon terbuka. Axel berdiri di sana, menatapnya sekilas.
"Kamu udah oles lagi salepnya?"
Maira mengangguk. "Udah. Terima kasih, Pak."
Axel hendak berbalik, tapi Maira memberanikan diri bicara.
"Saya tahu saya cuma bagian dari rencana Bapak. Tapi saya nggak akan ganggu hidup Bapak. Saya janji."
Axel tak menjawab. Matanya sejenak menatap wajah gadis itu dalam remang lampu balkon. Ada getar aneh di dadanya. Namun, hanya sedetik, sebelum ia berbalik masuk lagi ke dalam.
Baru beberapa langkah dari pintu, Axel tiba-tiba berhenti.
"Mulai besok, kamu jangan makan siang di pantry bareng karyawan lain. Pakai ruang meeting kecil lantai 17. Aku nggak suka kamu digosipin." Suaranya rendah, tapi jelas.
Maira terdiam, kaget. "Tapi... mereka pasti tambah curiga kalau-"
"Kalau mereka curiga, biarin. Aku nggak suka kamu disindir-sindir sama mereka. Kamu kerja buat aku, bukan buat mereka."
Axel menoleh setengah, tak sepenuhnya berbalik.
"Kalau ada yang tanya kenapa, bilang aja kamu dapat tugas khusus dariku. Biar mereka berhenti berisik."
Tanpa menunggu respons, Axel masuk dan menutup pintu.
Maira masih terdiam di balkon, menatap ke arah pintu yang tertutup. Untuk pertama kalinya, pria itu membelanya. Meski dengan caranya yang dingin dan sarkastik...
Tapi tetap saja-itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.