Suasana ruang meeting lantai delapan siang itu cukup menegangkan. Beberapa karyawan duduk rapi dengan laptop terbuka, sebagian lainnya sibuk mencatat di buku kerja masing-masing. Di ujung meja panjang, Axel Dirgantara berdiri tegak dalam balutan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Matanya tajam, suara baritonnya terdengar jelas tanpa perlu mikrofon. "Target kuartal ini nggak main-main. Kita kejar angka, bukan alasan," tegas Axel sambil menunjuk grafik di layar presentasi. Maira duduk di sudut ruangan, paling ujung kiri. Posisinya sedikit tersembunyi dari arah pandang Axel. Namun, dia bisa melihat lelaki itu dengan jelas. Sejak pagi, hatinya sudah berdebar tak karuan. Hari ini adalah hari yang dijanjikan. Uang itu... akan benar-benar ditransfer? pikir Maira. Ponselnya yang berad

