Suasana di ruang makan itu pecah seketika setelah suara berat Kakek Hartawan menggema. “Pernikahan Axel dan Maira… terjadi atas restuku.” Kalimat itu meluncur tegas, tajam, bagaikan palu yang memukul gong. Semua orang sontak terdiam sepersekian detik, lalu hiruk-pikuk meledak. “Apa?!” salah satu tante menutup mulutnya dengan tangan gemetar. “Papa… maksudnya… restu? Jadi… benar mereka menikah?!” Seorang om mengerutkan kening, meletakkan gelas anggurnya dengan suara keras hingga membuat minuman itu bergetar. “Astaga… Axel benar-benar melakukannya. Dan Papa.... malah merestuinya?” “Ini nggak masuk akal,” bisik sepupu perempuan, wajahnya pucat pasi. “Kenapa bukan Rafael yang Opa dukung? Bukannya Rafael yang selalu jadi kebanggaan kita?” Lain lagi dengan Tante Ratna—wanita bermake-up t

