Ruang rapat utama Grup Dirgantara tampak megah. Lampu kristal menggantung anggun, meja panjang dari kayu mahoni berkilau di bawah sinar lampu. Semua kursi terisi penuh oleh para anggota keluarga besar Dirgantara, yang sebagian besar memang menjabat sebagai dewan direksi. Suasana awalnya kaku namun tetap elegan, dengan suara ketukan pena dan bisikan kecil yang terdengar sesekali. Namun, ketegangan terasa sejak Maira melangkah masuk. Ia tahu betul, kehadirannya di forum sebesar ini bukanlah sesuatu yang diinginkan banyak orang. Beberapa tatapan tajam langsung mengarah padanya. Seakan mempertanyakan haknya duduk di kursi itu. Axel, yang duduk di sisi kanan meja, tampak murka. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di atas meja. “Siapa yang berani mengundang Maira ke rapat sebesar ini?” t

