Ani-ani
“Apa?! Ani-ani?” pekik Arumi terkejut. “Lo serius nyuruh gue jadi ani-ani?”
Clara—lawan bicara Arumi—tersenyum miring sambil menyandarkan tubuh di kursi coffee shop kecil tempat mereka duduk.
“Lo pikir, lo nyari gue terus minta kerjaan itu, lo berharap kerjaan kayak gimana?” tanyanya nyolot. “Lo tahu sendiri gue kerja apa.”
Arumi langsung terdiam.
Sedikit rasa bersalah menyusup karena memang dia tahu apa pekerjaan Clara. Gadis itu sengaja mencari Clara yang tampak ‘hedon’ di matanya, berharap bisa membantunya.
“Gue cuma butuh kerja tambahan, Cla,” lirih Arumi, suara gadis itu mengecil. “Gue kira lo bisa kasih gue kerjaan yang bukan kayak gitu. Jadi pesuruh lo kek. Atau jadi pembantu lo juga nggak apa-apa.”
Clara mendengus kecil.
“Gue nggak butuh pembantu. Kalau lo butuh kerjaan, ya gue bisanya nyariin itu.”
Arumi menelan ludahnya pelan. “E—emangnya nggak ada kerja yang lebih baik, Cla? Yang orang-orang bilang halal,” gadis itu mencicit.
“Halal?” Clara langsung terkekeh sinis. “Rum, lo tuh masih hidup di negeri dongeng apa gimana sih?”
Arumi menggigit bibir bawahnya. Tangannya refleks meremas ujung hoodie lusuh miliknya. Jaket itu sudah tiga tahun dipakai, menjadi pelindungnya dari sinar matahari setiap hari. Bahkan, warnanya sudah hampir pudar.
“Tagihan kuliah lo berapa emang?” tanya Clara pada akhirnya. Sedikit tidak tega melihat Arumi diam menunduk.
“Dua puluh dua juta,” jawabnya pelan.
Clara menghela napas panjang. Sunyi sesaat menemani mereka.
Suara mesin kopi dari balik bar terdengar samar. Aroma espresso bercampur s**u justru membuat perut Arumi terasa semakin kosong. Gadis itu belum makan sejak siang.
Gajinya sebagai kasir coffee shop habis untuk kebutuhan hidup. Dan tabungannya hasil dia berhemat selama ini sudah habis diambil Arhan—kakaknya.
Mata Arumi mulai terasa panas. Masalah hidupnya sejak kehilangan orang tua membuatnya hampir menyerah.
Kebakaran hampir dua tahun silam, membuatnya tidak hanya kehilangan harta benda, tapi juga kehilangan orang tua yang sangat menyayanginya. Lebih parahnya lagi, Arhan—kakak kandungnya menyalahkan dirinya atas peristiwa itu.
Arumi tidak bisa mengelak. Semua tuduhan Arhan memang mengarah kepadanya. Hubungan mereka buruk, sampai-sampai Arhan yang dulu sangat menyayanginya, kini menjadi sosok paling kejam di hidupnya selain kemiskinan.
“Rum.”
Suara Clara membuyarkan lamunan Arumi.
“Gue realistis aja, ya.” Gadis itu mencondongkan tubuh. “Cantik itu modal.”
Arumi mengernyit.
“Cari om-om kaya,” lanjut Clara santai. “Sekali aja lo dapet yang tajir, hidup lo bisa berubah.”
Wajah Arumi langsung pucat.
“Nggak, Cla. Gue nggak bisa.” Arumi buru-buru berdiri. “Em, gue balik dulu. Makasih atas waktu lo.”
Clara ikut bangkit, tenang.
“Ya udah.” Ia mengangkat bahu. “Tapi kalau nanti lo kepepet, chat gue aja. Gue nggak tega lihat lo pontang-panting pagi kuliah, siang sampai malam kerja dengan gaji sebulan cuma seperempat dari pendapatan gue tiap nemenin om-om.”
Arumi tidak menimpali lagi. Dia berjalan begitu saja menjauhi temannya. Bukan karena dia sok suci, tapi karena dia takut goyah.
Dan sayangnya, baru beberapa langkah menghindar, kenyataan hidup kembali menamparnya. Sebuah email resmi dari kampus membuat jantung Arumi terasa jatuh.
Peringatan Tunggakan Pembayaran Akademik.
Jika pembayaran tidak diselesaikan dalam waktu tujuh hari, status akademiknya akan dinonaktifkan. Ia tidak bisa mengisi KRS, mengikuti ujian, bahkan terancam drop out.
Arumi menatap layar ponselnya lama. Tangannya dingin, dadanya sesak. Kalau dia sampai dikeluarkan, semua perjuangannya selama ini sia-sia. Kuliah di universitas swasta mahal itu ia anggap sebagai kemauan orang tuanya saat mereka masih hidup.
Gadis itu menghela napas berat. Pikirannya berkecamuk, kepalanya serasa dibelah tiga.
Pada akhirnya dia berbalik, menatap Clara yang sedang menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh.
“Gue mau, Cla.”
Sebuah keputusan yang buruk, tapi Arumi tidak bisa menghindar. Semua cara mendapatkan uang sudah ia coba. Ia bekerja, ia mencari pinjaman. Uang yang seharusnya sudah hampir terkumpul itu, malah diambil paksa Arhan di saat-saat terakhirnya.
Clara tersenyum penuh arti.
Dan benar saja, di sinilah Arumi malam ini. Di sebuah lounge hotel yang terlalu mewah untuk seseorang seperti Arumi.
Lampu remang-remang, musik jazz pelan dan orang-orang berpakaian mahal berbaur elegan menjadi satu.
Arumi takut salah langkah. Sepatu heels pinjaman itu semakin terasa menyiksa kakinya. Belum lagi gaun hitam ketat pinjaman Clara. Lipstik merah terang, eyeshadow mengkilap yang membuat wajahnya terlihat aneh, dan parfum manis menyengat sangat membuatnya semakin tidak percaya diri.
Kata Clara, itu adalah parfum pemikat.
“Nah, lo lihat orang itu, Rum?” bisik Clara sambil melirik ke satu arah.
Arumi yang semula gugup, mengikuti arah pandangannya. Sontak napasnya tertahan begitu saja.
Seorang pria duduk sendirian. Tinggi, tampan, dengan jas gelap mahal segelap wajahnya yang tegas dan dingin.
Tidak banyak bicara, hanya sesekali melihat layar ponsel. Aura dominasinya terlalu kentara meskipun dia tidak bergerak berlebihan.
“Yang itu?” tanya Arumi pelan.
Clara mengangguk mantap. “Itu target lo.”
Jantung Arumi mendadak berdebar kencang.
“Kalau dia marah gimana, Cla?” tanyanya ragu-ragu.
“Ya tinggal pergi.”
Mudah sekali Clara bicara. Wanita itu seolah tidak paham apa yang Arumi rasakan.
“Tapi, Cla. Kaki gue gemeteran,” bisik Arumi panik. “Gue nggak ngerti harus gimana.”
“Udah… Lo tinggal senyum dikit, duduk dan ajak dia ngobrol.”
Rasanya, Arumi hampir pingsan akibat debaran jantungnya sendiri.
Tapi lagi-lagi, dia tidak punya pilihan lain. Dengan langkah kaku dan harga diri yang tinggal separuh, dia memberanikan diri mendekat.
Arumi sempat berhenti dua langkah sebelum sampai di meja itu.
“Cla, gue nggak yakin,” bisiknya panik.
“Astaga, Rumi… maju!” Clara mendorong gadis itu setengah kesal.
Sayangnya, sebelum Arumi benar-benar mendekat, gadis itu malah mengambil minuman berwarna merah di atas buffet.
“Rum, itu alkohol.” Clara berusaha mengingatkan.
Rupanya, jawaban Arumi justru di luar dugaan. “Sengaja. Kata Mas Arhan, mabuk bikin orang percaya diri.”
Clara ingin mencegah, tapi sayangnya Arumi bergerak lebih cepat. Satu teguk sudah mengalir di tenggorokannya, meskipun dia mengernyit dengan mata terpejam erat, seperti menahan sesuatu.
Dua gelas
Tiga gelas
Dan… lima gelas.
“Udah, Rum. Kalau kebanyakan minum, yang ada lo malah nggak jadi cari duit.” Clara menyambar gelas ke enam di tangan Arumi.
Gadis itu menggelengkan kepalanya sejenak.
“Kok gue pusing banget ya, Cla?”
“Lo sih… Aneh-aneh aja.” Clara menggerutu. “Masih bisa kerja nggak? Jangan-jangan lo intolerant alcohol.” Clara tampak sedikit kesal.
“Bisa! Gue bisa. Yang itu kan orangnya?” Arumi berusaha berdiri dengan tegak. “Lihat gue! Kalau gue dipermalukan, lo harus bantu gue ya, Cla.”
Sialnya, belum sempat Clara berkata-kata lagi, Arumi sudah berjalan menjauh.
Gadis itu berjalan sempoyongan sampai beberapa kali menabrak orang. Hingga tiba-tiba, Arumi terjatuh, mendarat sempurna di pangkuan seseorang.
“Akh!”
Gadis itu berusaha memperhatikan lelaki yang memeluknya.
“Jangan lancang, Nona!”
Suara seseorang terhenti saat pria yang memangku Arumi mengangkat tangannya.
Arumi sendiri mengernyit. Bukan karena tidak paham apa maksud mereka. Tapi, karena dia ingin memastikan apakah targetnya sudah benar atau belum.
“Om, aku temani. Tapi, bayar aku 22 juta!”
Hampir semua orang yang ada di tempat itu, membelalak karena terkejut.