bc

PESONA TANTE IPARKU

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
love-triangle
family
escape while being pregnant
age gap
blue collar
drama
bxg
campus
city
cheating
affair
friends with benefits
polygamy
addiction
like
intro-logo
Uraian

WARNING!!!!!

-----------

NOVEL INI BERGENRE 21++ DENGAN DESKRIPSI SEKSUAL EKSPLISIT DAN KONTEN KEDEWASAAN VULGAR.TIDAK DITUJUKAN UNTUK PEMBACA DI BAWAH UMUR. JIKA ANDA BELUM CUKUP UMUR, SILAKAN MEMBACA NOVEL LAIN.

-----------------

Dimas Mahesa tak pernah menyangka bahwa kedatangannya ke jakarta menjadi awal dari keruntuhan moralnya. Tinggal di rumah Tantenya, Viona Anindya Putri, seorang wanita matang berusia 39 Tahun yang memiliki tubuh mungil yang sangat menggoda dan memancarkan aura sensualitas yang agresif.

Di sisi lain, kehidupan ranjang Viona dengan suaminya Andre Bramasta adalah sebuah kegagalan, sudah Lima Belas Tahun pernikahan namun belum diberikan buah hati.Andre Bramasta adalah pria sukses yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan menderita ejakulasi dini, sehingga kebutuhan emosional maupun biologis Viona tak pernah Terpuaskan.

Kehadiran Dimas yang muda dan berbadan kekar seketika membangkitkan gairah tersembunyi dalam diri Viona. Mulai dari tatapan nakal, sentuhan menggoda, dan rayuan berani Viona yang perlahan merusak mentalitas Dimas ke dalam pesonanya. Hingga keduanya akhirnya terjerumus dalam perselingkuhan panas yang penuh risiko.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Titik Awal Kekacauan.
Langkah kaki terdengar bersahut-sahutan di salah satu terminal di Jakarta. Suara peluit kenek, teriakan calo, dan desingan mesin bus menciptakan paduan suara khas ibukota. Dari salah satu bus antarkota yang baru saja berhenti, Dimas Mahesa turun sambil menggendong ransel besarnya. "Akhirnya sampai juga di jakarta, gak sabar pengen cepet-cepet masuk kampus dan mulai kehidupan baru sebagai anak kuliahan di sini" ucap Dimas sambil menghela napas panjang dan melempar pandangan ke sekeliling area terminal yang super sibuk. Wajahnya begitu tampan alami khas pria desa, sorot matanya teduh yang menandakan anak baik-baik, ia lalu berjalan menuju trotoar depan terminal, mencari-cari keberadaan mobil jemputan Om-nya, Andre Bramasta. Dalam chat terakhir pagi tadi, Om-nya berjanji akan menjemputnya langsung diterminal. Tiba-tiba Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Seorang wanita dengan balutan dress pink ketat turun dari mobil. tubuhnya mungil dan kulit putih bersih. Mata tajamnya menyapu pria didepannya dari atas sampai bawah. “Dimas…” ucap wanita itu dengan senyum manis. Dimas yang sedang clingak-clunguk mencari keberadaan pamannya langsung menoleh, otaknya sempat buntu sejenak dan memproses siapa sosok cantik luar biasa yang ada di hadapannya saat ini. "T-tante… Vio?" Jawab Dimas dengan nada suara yang sedikit terbata-bata dan canggung karena benar-benar terkejut. Wanita itu adalah Viona Anindya Putri, Istri dari Om-nya, Kini Tante ipar di depannya itu lebih mempesona, lebih seksi dari terakhir kali ia lihat saat dirinya masih bocah SMP. Dimas buru-buru menyalami tangan tante iparnya dengan gerakan yang agak kaku dan sedikit canggung. Dimata Viona, Ada perubahan besar dari dimas yang sangat mencolok sekarang, pemuda yang dulu kurus kini berubah jadi sosok pria tegap dengan postur tubuh yang sangat atletis, wajahnya juga jadi sangat tampan dan memancarkan Aura maskulin yang begitu memikat. Dan entah kenapa perubahan fisik yang begitu drastis dari keponakan iparnya itu sedikit mengganggu pikirannya. “Wah… kamu sekarang banyak perubahan ya, jadi tinggi gini, Ganteng lagi…” ucapnya dengan suara lirih namun terselip nada menggoda. Dimas menggaruk tengkuknya yang sama sekali gak gatal, dia merasa sangat malu mendengar pujian tante iparnya yang blak-blakan itu. “Ah… nggak ada yang berubah kok tante, biasa aja…” jawab dimas sambil menundukan kepalanya, berusaha keras untuk menyembunyikan rona merah dipipinya. Viona tersenyum kecil, menikmati respons malu-malu dari keponakan iparnya itu. Meskipun secara penampilan fisiknya sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang kekar, namun sikap polos masih sangat melekat erat dalam dirinya. "Oh ya, Om kamu nggak bisa jemput karena ada kerjaan dadakan, jadinya Tante yang jemput kamu.” ucapnya sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang dengan gerakan yang sangat anggun. Dimas mengangguk paham meskipun ada sedikit rasa kecewa karena tidak bisa bertemu pamannya secara langsung. "iya tante gak papa kok" jawab dimas sambil tersenyum tipis mencoba mencairkan suasana. Viona lalu membuka pintu bagian depan mobilnya dengan gerakan santai. "ayo masuk, kita langsung kerumah aja biar kamu bisa istirahat disana" ucap viona sambil memberikan isyarat dengan tangannya. Dimas menganggukan kepala, ia lalu masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah kemudi dengan perasaan yang masih agak canggung. "Sabuk pengamannya di pakai dulu ya" Ucap Viona sambil menatap keponakan iparnya itu. Dimas terdiam mematung sambil memegangi tali sabuk pengamannya, bingung karena belum pernah naik mobil sama sekali. "Cara Pakenya gimana ya tante" ucap dimas sambil menggerak-gerakkan tali sabuk pengaman itu tanpa arah. Viona menahan tawanya melihat kepolosan keponakan iparnya itu, ia memaklumi kondisi Dimas yang memang tumbuh besar di pedalaman kampung. Viona lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Dimas dan membantu memasang tali sabuk pengaman itu. Saat ia membungkuk, mata dimas tak sengaja melihat belahan d**a sang tante di balik dres ketatnya itu. Ia buru-buru menoleh ke jendela samping dengan wajah yang memerah padam dan tubuh gemetar halus, Dadanya mendadak berdebar sangat kencang dan keringat dingin mulai muncul didahinya. Viona yang menyadari perubahan sikap Dimas hanya tersenyum tipis, ia begitu menikmati salah tingkah keponakannya yang tampak begitu manis dan menggemaskan banget dimatanya. "Dasar anak muda polos, baru liat belahan d**a aja udah langsung keringetan dan gemetaran gitu, gimana kalo suruh pegang, pasti langsung pingsan di tempat," ucap viona dalam hati sambil menahan senyum kemenangannya. Ia lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankan kendaraannya membelah kepadatan lalu lintas kota Jakarta yang mulai padat. “Gimana perjalanan kamu Dari Jawa? Capek?” tanya viona sambil sesekali melirik ke arah Dimas. Dimas berusaha mengatur napasnya yang sempat tidak beraturan agar suaranya terdengar biasa saja. “Lumayan Tante. Tapi capeknya langsung ilang begitu ngeliat bangunan-bangunan tinggi di Jakarta” jawab Dimas sambil melempar pandangan ke luar jendela yang memperlihatkan deretan gedung bertingkat. Viona menoleh lagi sambil tersenyum penuh makna mengamati ketakjuban anak muda di sampingnya. “kamu harus bisa jaga diri kalau dijakarta ya, jangan sampe terjerumus ke pergaulan bebas, apalagi gampang kegoda rayuan wanita" ucap viona dengan nada bicara lembut namun menyiratkan pesan implisitis yang misterius. Dimas mengangguk mantap menyetujui wejangan tante iparnya itu. "Iya tante, aku bakal jaga diri baik-baik dan fokus sama tujuan utamaku buat kuliah di sini" jawab dimas dengan keyakinan penuh. Tanpa Dimas sadarai, ada bahaya terselubung yang sedang mengintai dari jarak yang sangat dekat, rayuan halus dari mulut viona yang bisa meruntuhkan benteng pertahanannya dan pikiran-pikiran bahaya dari sang tante yang sewaktu-waktu bisa menjerat kepolosannya. Di sisa perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga puluh lima menit itu, dimas tertidur pulas karena efek lelah akibat perjalanan jauhnya tadi, hingga Mobil viona akhirnya sampai di halaman sebuah rumah dua lantai bergaya minimalis. "Udah sampai Dim, bangun" ucap viona sambil menepuk bahu Dimas dengan sangat lembut. Dimas mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat, lalu mengusap wajahnya perlahan untuk mengumpulkan kesadarannya. "Aduh maaf ya tante, aku malah ketiduran" ucap dimas canggung sambil membetulkan posisi duduknya. Viona mematikan mesin mobil dan mencabut kunci kontak, lalu menatap wajah dimas dengan tatapan lekat yang sulit diartikan. "Yuk turun, kita masuk ke rumah" ucap viona ramah sambil membuka pintu mobil dan jalan lebih dulu menuju pintu rumah. Dimas menyusul keluar dari dalam mobil sambil menggendong ranselnya. Namun Ketika ia menatap ke arah depan, matanya langsung disuguhi pemandangan indah b****g sang tante yang geal-geol seirama dengan langkah kakinya yang anggun namun penuh daya pikat. "Astaga… Tante bener-bener seksi banget…" ucap Dimas sambil menelan ludah tanpa sadar dengan mata menelusuri lekuk tubuh sang tante yang dibalut dres ketatnya itu. Menyadari pikirannya mulai berkelana liar dan membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya, Ia buru-buru menggelengkan kepala dengan cepat untuk mengusir bayangan itu. "Sadar Dimas Sadar.. Tante Vio Itu istri om kamu! jaga sopan satunmu dan hormati dia!" ucap dimas dalam hati sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju teras rumah dengan kepala menunduk dalam-dalam menghindari godaan lekuk tubuh tante iparnya yang berjalan tepat beberapa langkah di depannya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.5M
bc

The Silver Wolf

read
591.6K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
899.3K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook