BAB 1: Awal Kebangkrutan
“Clarissa… Ayahmu. Beliau ditemukan tidak sadarkan diri di ruang kerjanya. Serangan stroke parah. Sekarang ada di ICU Rumah Sakit Pusat.”
Clarissa tidak ingat bagaimana dia bisa meninggalkan aula pameran. Dia tidak peduli pada gaun sutra mahalnya yang kini basah kuyup karena berlari menembus hujan demi mencapai lobi rumah sakit.
Kini, di depan pintu kaca steril ruang ICU, Clarissa berdiri dengan napas terengah-engah. Rambutnya yang semula ditata rapi kini lepek menempel di pipinya yang pucat. Di dalam sana, melalui celah kaca kecil, dia bisa melihat tubuh perkasa Pramoedya Danuarta—pria yang selama ini dia anggap seperti dewa yang tak tersentuh—terbaring lemah dengan selang-selang respirator menusuk tubuhnya.
"Clarissa."
Sebuah tepukan di bahu membuatnya tersentak. Dia berbalik dan menemukan Baskoro, pengacara ayahnya, menatapnya dengan raut wajah yang tidak hanya menyiratkan duka, melainkan ketakutan yang teramat sangat.
"Bagaimana keadaan Ayah, Om? Apa kata dokter?" suara Clarissa bergetar, nyaris habis.
Baskoro tidak langsung menjawab. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri lorong rumah sakit yang sepi sebelum menarik Clarissa ke sudut yang agak tersembunyi. "Dokter sedang melakukan yang terbaik, Clarissa. Tapi... stroke ini dipicu oleh tekanan emosional yang luar biasa ekstrem. Ada hal lain yang harus kau ketahui sekarang. Hal yang jauh lebih buruk dari sekadar kondisi fisik ayahmu."
Jantung Clarissa berdegup dua kali lebih cepat. "Apa maksudnya?"
Baskoro membuka tas kulitnya dengan tangan yang gemetar. Dia mengeluarkan sebuah map dokumen tebal yang sedikit basah terkena cipratan air hujan. "Dua jam sebelum ayahmu tak sadarkan diri, dewan komisaris mengadakan rapat darurat tanpa sepengetahuanmu. Saham Danuarta Group terjun bebas hingga menyentuh batas bawah sejak pagi ini. Seseorang telah melakukan aksi jual massal secara sistematis."
"Siapa?" Clarissa merebut map itu. Matanya dengan cepat memindai deretan angka dan grafik merah yang menukik tajam. "Siapa yang berani menyabotase kita?"
"Bukan sabotase, Clarissa. Ini adalah penagihan paksa," bisik Baskoro, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. "Ayahmu... diam-diam menjaminkan seluruh saham pengendali Danuarta Group untuk sebuah pinjaman raksasa setahun yang lalu. Dan hari ini, hutang itu jatuh tempo. Kita tidak punya likuiditas untuk membayarnya."
Dunia di sekitar Clarissa seolah berputar. "Hutang? Kepada siapa? Bank mana yang berani melakukan ini pada Ayah?!"
Baskoro menggeleng lambat, matanya menatap Clarissa dengan pandangan kasihan yang paling dibenci wanita itu. "Bukan bank. Tapi sebuah perusahaan investasi swasta. Bratadikara Corp."
Bratadikara Corp.
Nama itu asing, namun entah mengapa terdengar seperti sebuah vonis mati.
"Pemiliknya bernama Arjuna Bratadikara," lanjut Baskoro. "Dia baru saja kembali dari London beberapa yang bulan lalu dan langsung meluncurkan serangan ini. Dia memegang surat hutang sah yang ditandatangani ayahmu. Jika dalam waktu empat puluh delapan jam kita tidak bisa melunasinya, Bratadikara Corp memiliki hak legal penuh untuk menyita seluruh aset, gedung, dan nama Danuarta Group. Kita akan digilas sampai ke akar-akarnya."
Clarissa mencengkeram pinggiran meja resepsionis di dekatnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam ruang ICU, monitor jantung ayahnya berbunyi konstan, mengiringi kehancuran dinasti mereka. Pria bernama Arjuna itu dengan sengaja menunggu ayahnya lengah, menunggunya sekarat, untuk mengambil alih segalanya.
Ini bukan sekadar urusan bisnis. Melainkan perburuan. Dan keluarga Danuarta adalah mangsa yang sudah masuk ke perangkap.
Clarissa menghapus air mata yang sempat lolos ke pipinya dengan kasar. Dia menegakkan bahunya, menolak untuk terlihat runtuh meskipun jiwanya sedang menjerit ketakutan. Dia menatap Baskoro dengan kilat tekad yang dingin di matanya.
"Di mana b******n bernama Arjuna itu sekarang?" tanya Clarissa, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es.
"Clarissa, jangan gegabah—"
"Di mana dia, Om?!" seru Clarissa, tidak lagi bisa menahan gelombang amarah yang membakar dadanya. "Dia ingin menghancurkan rumahku saat ayahku sedang bertaruh nyawa? Aku tidak akan membiarkannya. Atur pertemuan dengannya besok pagi. Aku sendiri yang akan menghadapi serigala itu."
Baskoro menghela napas panjang, menyerahkan sebuah kartu nama hitam legam dengan tulisan emas timbul yang elegan: Arjuna Bratadikara - Chief Executive Officer.
Clarissa menerima kartu itu. Di bawah pendar lampu rumah sakit yang temaram, nama itu tampak seperti bayangan hitam yang siap menelan seluruh hidupnya. Sementara itu di seberang kota, di dalam menara pencakar langit yang megah, seorang pria sedang menatap rintik hujan di jendela dengan senyum kemenangan yang kejam, memegang foto masa kecil Clarissa yang siap dia bakar menjadi abu.