“Kau kenapa?” Daniel bertanya setelah beberapa saat. Tapi dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Mengusap punggung Helva lembut. “Belakangan ini sering sekali minta peluk,” katanya. “Keberatan?” “Tidak. Hanya heran. Tak biasanya.” “Aku lelah. Hari pertama menstruasi bulan ini, moodku labil, dan aku lelah. Tapi aromamu itu, canduku. Kau hangat, dan menenangkan,” jawab Helva. Daniel membiarkan saja Helva seperti itu. “Butuh sesuatu?” tawarnya kemudian. “Tidak. Hanya ingin istirahat,” balas Helva. Daniel hanya mengangguk pelan, tangannya masih setia mengusap punggung Helva dengan gerakan perlahan, seperti irama napasnya sendiri yang mulai tenang. “Kau bisa istirahat di sini,” katanya lembut, seolah takut merusak ketenangan yang sedang menyelimuti mereka. Helva mengangguk k

