Helva melangkah cepat meninggalkan toilet restoran, membiarkan derap sepatunya tenggelam dalam riuhnya celoteh pengunjung yang cukup ramai siang itu, dengan musik pop yang mengalun sepanjang menit. Pikirannya bekerja cepat, menghitung waktu yang tersisa. Dia tahu Edmund tidak akan diam saja, tapi dia butuh jarak sekarang. Tatapan para pria yang ada di ruangan itu terasa dingin ketika dia masuk, seolah ruangan itu pun tahu bahwa badai sedang disiapkan. Tangannya meremas tas kecil yang berisi flash drive, bukti kebusukan Denis. “Maaf,” ucap Helva pelan. Pembahasan di mulai, bahkan setelah Edmund kembali datang ke ruangan lantas duduk di kursinya yang semula. Helva mencoba fokus pada pembicaraan, mengabaikan tatapan tajam Edmund dan Risty dari arah yang berbeda. Jelas saja Risty menatapny

