BAB 1 Pulang untuk Terikat
Pesawat itu mendarat dengan hentakan keras. Natasha memejamkan mata saat roda besi menyentuh landasan. Getarannya merambat sampai ke dadanya, seolah mengingatkan bahwa ia benar-benar kembali.
Indonesia. Delapan tahun lalu, ia pergi dari negara ini sebagai gadis yang dihina, ditertawakan, dan… ditinggalkan. Delapan tahun sejak ia meninggalkan negara ini tanpa benar-benar menoleh ke belakang. Delapan tahun sejak ia berhenti mendengar panggilan, “Caca si itik buruk rupa”.
“Natasha, sayang, kita sudah sampai.”
Suara ibunya lembut, tapi tetap tidak bisa menghapus rasa sesak yang entah sejak kapan menetap di d**a Natasha.
Ia membuka mata. Bandara Soekarno-Hatta terlihat sama seperti terakhir kali ia lihat.Masih ramai, bising, penuh wajah-wajah asing yang berlalu-lalang tanpa peduli pada beban orang lain, tapi baginya, tempat ini adalah gerbang menuju masa lalu yang belum benar-benar mati. Ia berdiri dengan mantap, mengambil koper dan mengangkat dagu.
Sambil menarik nafas panjang, Ia mencoba meyakinka dirinya, "Tenang Natasha, relax. Sekarang kamu bukan lagi anak SMA dengan wajah penuh jerawat, rambut pendek dan kacamata tebal yang selalu tertunduk saat berjalan. Kamu bukan itik buruk rupa lagi," ucapnya
Ia berjalan tegak. anggun dengan rambut panjang yang tergerai lembut. Makeup tipis membingkai wajahnya yang kini jauh lebih dewasa, cantik dan tenang.
Ia belajar banyak selama di luar negeri. Belajar bahwa dunia kejam pada yang lemah dan penampilan bisa menjadi tameng. Belajar bahwa air mata tidak selalu bisa menyelamatkan justru malah akan menambah luka.
Tapi satu hal yang tak pernah benar-benar bisa ia pelajari di luar negeri. yaitu cara melupakan masa lalu.
---
Mobil keluarga Ramond melaju meninggalkan bandara. Natasha duduk di kursi belakang, menatap lampu-lampu kota yang berpendar di balik kaca.
“Kita langsung ke rumah baru ya,” ujar ayahnya dari kursi depan.
Rumah baru, kota baru dan hidup yang baru. Seharusnya begitu. Namun setiap sudut jalan terasa seperti bayangan masa lalu yang mengintai.
Lapangan basket sekolah.
Kantin.
Koridor panjang.
Tawa.
Tawa yang bukan karena lucu, tapi tawa yang menghina dan merendahkan dirinya.
Natasha memejamkan mata.
'Jangan sekarang. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku kembali bukan untuk tenggelam lagi.'
---
Makan malam itu terasa berbeda.Meja panjang. Makanan lengkap. Suasana terlalu formal untuk sekadar makan keluarga.Natasha menyadari sesuatu sejak awal.Ada yang akan terjadi.
“Ada yang ingin Papa bicarakan,” suara ayahnya terdengar serius.
Natasha meletakkan sendoknya pelan.
Jantungnya berdetak tidak wajar.
“Perusahaan Papa sedang mengalami masalah finansial.”
Ia menelan ludah.
“Papa sudah berusaha mencari investor yang mau membantu perusahaan kita agar bisa bertahan dan bangkit lagi. Untungnya, ada satu keluarga yang bersedia membantu kita.”
Hening sesaat, melanda di ruangan itu.
"Apakah ada negosiasi dengan keluarga itu?" Tanya Natasha akhirnya.
"Ada."
Natasha sudah bisa menebaknya sebelum kata itu keluar.
“Kita akan menjalin hubungan keluarga dengan mereka.”
Hubungan keluarga. Itu bukan sekadar kerja sama bisnis. Ibunya menggenggam tangannya.
“Natasha… kamu akan dijodohkan dengan anak mereka.”
Ruang makan itu terasa menyempit.Dunia seperti kehilangan udara.
“Dengan siapa?” suaranya terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.
Ayahnya menatapnya dalam.
“Kamu sudah mengenalnya bahkan sangat dekat dulu."
"Sangat... dekat?"
"Iya, dengan Zayn Mahardika. Kamu ingatkan?”
Dunia seketika serasa berhenti. Nama itu bukan sekadar nama. Bagaimana ia bisa lupa dengan nama itu. Nama yang merupakan mimpi buruk, dan luka yang selalu ia bawa selama ini.
Nama yang dengan lantangnya mengatakan, "Gue nggak pernah suka sama cewek jelek, cupu,menjijikan kayak lo!"
Tangan Natasha mulai dingin. Ia berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser.
“Tidak...”
Suara itu keluar refleks.
Ibunya terkejut. “Natasha—”
“Aku tidak mau.”
Delapan tahun.
Delapan tahun ia mencoba membangun kembali dirinya.
Dan sekarang… ia diminta kembali ke sumber kehancurannya?
“Papa sebenarnya tidak ingin memaksa,” ayahnya berkata hati-hati, tapi nadanya tetap tegas. “Ini demi keluarga kita, sayang. Hanya mereka yang mau menolong perusahaan kita.”
Natasha menahan napas. Ia mencintai keluarganya.
Tapi apakah mereka tahu?
Apakah mereka tahu ia pernah berdiri di kamar mandi sekolah sambil menatap wajahnya sendiri dan berharap bisa terlahir sebagai orang lain?
Apakah mereka tahu ia pernah hampir berhenti makan hanya karena ingin terlihat “cukup cantik” agar tidak dihina lagi?
Apakah mereka tahu orang yang mereka pilih adalah alasan ia pergi?
“Aku tidak bisa pa,” bisiknya.
Ayahnya menghela napas panjang.
"Kenapa? Bukankah kalian dulu sangat dekat? Kamu bahkan sering mengatakan ingin menikah dengannya sejak kamu TK."
"Itu waktu aku masih kecil dan tidak bisa berpikir dengan cukup dewasa."
“Setidaknya temui dia dulu.”
Temui dia.
Delapan tahun.
Bagaimana jika ia masih sama?
Bagaimana jika ia bahkan tidak menyesal?
Bagaimana jika baginya, semua itu hanya masa lalu kecil yang tak berarti?
---
Malam itu Natasha berdiri lama di depan cermin kamar barunya.
Ia menyentuh pipinya.
Kulitnya kini halus.
Jerawat yang dulu jadi bahan ejekan itu sudah lama hilang.
Tapi bekasnya?
Tidak di kulit.
Di hati.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia menatap layar itu lama.
Entah kenapa… ia tahu.
Ia tahu siapa itu.
Tangannya sedikit gemetar saat menjawab.
“Halo?”
Hening.
Lalu suara itu.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Lebih dewasa.
Tapi tetap membuat jantungnya berhenti.
“Caca?”
Ia memejamkan mata. Delapan tahun tidak menghapus cara suaranya menyebut namanya.
“Ini Zayn.”
Napasnya tercekat.
“Aku dengar kamu sudah kembali.”
Ia menelan ludah.
"Ya begitulah," jawab Natasha datar.
"Kamu sudah mendengar tentang perjodohan kita?"
"Sudah."
"Bagaimana menurutmu?"
“Memang aku punya pilihan yang lain? Ini demi menyelamatkan perusahaan papa.”
Hening dua detik.
Lalu,
“Aku juga," ucap Zayn.
Dan untuk pertama kalinya setelah delapan tahu, Natasha merasa lukanya kembali terbuka.