Pagi datang dengan suasana yang berbeda. Bukan karena rumah itu berubah melainkan karena jarak di antara mereka tidak lagi sedingin kemarin. Nesya sudah rapi sejak pukul tujuh. Blazer putih tulang membingkai tubuhnya dengan elegan, dipadukan rok span hitam dan sepatu heels rendah yang tetap nyaman. Rambutnya dibiarkan tergerai setengah, make-up tipis menegaskan wajah profesionalnya. Ia keluar dari kamar sambil mengecek jadwal di tablet. Leo sudah duduk di ruang makan dengan kopi hitamnya. Biasanya, setelah sarapan singkat, Nesya akan memanggil taxi atau memakai mobil sendiri. Namun pagi ini, Leo berdiri sebelum ia sempat bicara. “Aku antar.” Nesya mendongak, sedikit terkejut. “Tidak perlu. Aku sudah biasa—” “Aku tidak ada agenda pagi ini.” Nada suaranya tidak memerintah, tapi tegas.

