Nesya dan Leo pergi menuju parkiran. Leo dengan cepat membukakan pintu untuk Nesya membuat wanita itu tertegun pelan. Rasanya baru kemarin suaminya bersikap dingin dan membuatnya menangis di malam pertama. Sekarang, pria itu seperti suami yang cukup perhatian.
"Terima kasih." Nesya masuk ke dalam mobil.
Leo hanya mengangguk kecil lalu masuk ke dalam mobil. Mobil melaju pelan. Keduanya tidak banyak bicara selama perjalanan pulang.
“Dia menatapmu berbeda,” ucapnya akhirnya.
Nesya mengernyit. “Siapa?”
“Tara.”
"Ini masih membahas soal yang tadi?"
"Ya, aku masih ingin membahasnya." Leo mengiyakan, tidak berniat menyangkal.
Nesya mengembuskan napas pelan.
"Sudah aku bilang, Tara tidak punya perasaan seperti itu kepadaku."
"Kamu yakin? Sebagai pria, aku bisa merasakan kalau dia melihatmu sebagai wanita."
"Aku memang wanita." Nesya tersenyum geli.
"Aku tahu, hanya saja, kamu wanita yang istimewa baginya," tegas Leo, meski dia nyaris mengumpat karena kesal dengan candaan Nesya.
Nesya tertawa kecil. “Kamu terlalu banyak asumsi, Leo. Kami sudah lama bersahabat. Seperti kataku, kami keluarga.”
“Aku jarang salah membaca orang.”
Nada itu bukan sombong melainkan seperti sudah percaya kalau itu fakta.
Sebagai perwira, Leo terbiasa membaca bahasa tubuh. Gerakan kecil. Tatapan yang tertahan. Nada suara yang berubah sepersekian detik. Tadi, ia bisa melihat semuanya. Meski jelas, Nesya tidak begitu. Awalnya dia berpikir akan lebih baik Nesya tidak tahu, tetapi dia tetap merasa terganggu.
“Dia peduli karena kami membangun ini bersama,” jawab Nesya tenang. “Kami berempat hampir tidak punya apa-apa dulu.”
“Peduli dan mencintai itu dua hal berbeda.”
Nesya menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng pelan. “Kamu terlalu serius.”
Ia mengambil tablet dari tasnya. “Aku masih ada dua meeting lagi besok. Malam ini aku akan begadang dan mereka akan datang ke rumah. Kamu keberatan?”
Nesya menegaskan itu agar Leo tidak lagi bertanya seolah pembicaraan itu tidak penting dan seolah perasaan Tara bukan sesuatu yang perlu dipikirkan. Namun justru itu yang membuat Leo makin yakin kalau Nesya benar-benar tidak tahu.
Leo tidak langsung menjawab, tapi Nesya tahu pria itu tidak akan menolak.
"Aku bisa meeting di rumah Tara kalau kamu tidak suka dia datang ke rumah," katanya membuat Leo seketika melotot.
"Kamu istriku," tegasnya.
Nesya tersenyum kecil, "Aku tahu. Istri pengganti yang akan pergi begitu Maria kembali," katanya membuat Leo memegang stir dengan kuat.
Leo yang mengatakan hal itu, tetapi tetap saja, dia sendiri yang merasa terganggu ketika ucapan itu diulang kembali oleh Nesya.
---
Malamnya, ketiga teman Nesya benar-benar datang ke rumah dinas. Leo awalnya ingin ikut mengobrol, tapi gengsinya terlalu tinggi. Jadi, dia hanya menunggu di teras. Sesekali dia melirik istrinya yang terlihat sangat antusias dalam meeting. Dia melihat sisi berbeda sekali lagi dari Nesya.
"Leo, Nesya itu tidak kompeten. Dia hanya bisa mengandalkan orang lain, tapi papa dan mama lebih percaya dia daripada aku. Padahal, aku putri tertua. Harusnya aku yang menjadi pewaris perusahaan selanjutnya, kan?" Perkataan Maria tergiang kembali di pikiran Leo.
Saat itu Leo hanya bisa ikut mengutuk Nesya bersama Maria. Sekarang, dia merasa mungkin Maria hanya salah paham. Sebab Nesya terlalu polos dan...
Leo terdiam, menyadari bahwa pemikirannya tentang Nesya, sedikit demi sedikit telah berubah.
Rapat berjalan lancar. Hal itu bisa terlihat dari wajah cerah Nesya. Dari kejauhan, ia juga melihat Tara berbicara dengan Anita dan Sari. Ekspresinya profesional dan santai.
Namun, saat berbicara dengan Nesya, tatapan pria itu hanya mengarah padanya. Bukan tatapan biasa. Bukan sekadar rekan kerja menghormati atasan. Itu tatapan yang terlalu lama dan penuh seolah Nesya adalah pusat dunianya.
Leo merasakan kembali sensasi panas di dadanya.
Ia berjalan mendekat tanpa sadar.
“Pak Leo masih di sini?” Anita bertanya ramah.
“Menunggu istri saya,” jawabnya tenang.
Kata itu terdengar berbeda saat ia ucapkan di depan Tara.
Istri saya.
Tara tersenyum tipis. “Meetingnya mungkin masih lama.”
“Aku tidak keberatan.”
Kalimat itu seperti pernyataan wilayah.
Tara menatapnya beberapa detik. Tidak menantang atau mundur. Hanya diam.
Dalam diam itu, Leo melihat sesuatu yang lebih jelas dari sebelumnya, rasa yang tidak mungkin salah.
"Kami tidak fokus kalau kamu di sini," ujar Nesya.
"Aku hanya ingin mengambil minum di dapur lalu ke kamar," pungkas Leo lalu pergi.
----
Meeting akhirnya selesai. Semua orang sudah pulang. Nesya mengetuk pintu kamar Leo.
"Semua sudah pulang," katanya begitu pintu dibuka.
"Hm, aku tahu. Aku bisa mendengarnya," sahut Leo.
"Mau makan bersama? Tadi Tara memesankan makanan untuk kami dan aku khusus menambah satu porsi untukmu," jelasnya.
Leo mengepalkan tangannya. Perasaan terganggu itu semakin tinggi.
“Sejak kapan Tara menyukaimu?”
Nesya menoleh cepat. “Apa?”
“Kamu benar-benar tidak sadar?”
“Sadar apa?”
Leo menghela napas pendek. “Dia mencintaimu.”
Sunyi sebentar lalu Nesya tertawa kecil, hampir tak percaya. “Tidak mungkin.”
“Aku melihatnya.”
“Kamu salah.”
“Tidak.”
Nada Leo tegas.
Nesya perlahan berhenti tersenyum. “Tara sahabatku. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa tentang itu.”
“Karena dia tahu kamu sudah menikah.”
Kalimat itu menggantung. Nesya memandang lurus ke depan sekarang.
Mencoba mengingat ulang setiap interaksi. Setiap tawa, kalimat atau perhatian kecil yang mungkin membuat Leo salah paham.
"Tidak, kami sahabat yang seperti keluarga," tegasnya tanpa goyah.
"Kamu... salah." Leo menatapnya lekat. "Tara mencintaimu, Nesya."
Nesya mendengus pelan.
“Kalau pun itu benar, itu perasaannya. Bukan tanggung jawabku dan aku sudah menikah.”
Jawaban itu tenang, matang dan tidak defensif. Namun entah kenapa, jawaban itu justru membuat Leo semakin tidak nyaman.
Karena ia sadar satu hal bahwa Nesya bukan wanita yang akan bermain dua hati.
Jika suatu hari ia memilih seseorang… Ia akan memilih dengan utuh dan itu bukan dia.
“Kalau suatu hari dia menyatakan perasaannya?”
Nesya menjawab tanpa ragu, “Aku akan tetap menjadi istrimu.”
Bukan karena cinta atau janji romantis melainkan karena komitmen.
"Sebaliknya, aku tidak akan mengganggu andai Maria kembali dan kamu ingin bersamanya."
Kalimat itu menghantam Leo lebih keras daripada pengakuan apa pun.
Di antara keheningan itu, Leo menyadari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada cinta Tara, ia mulai merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia miliki sepenuhnya.