Hujan tipis menyelimuti kawasan elit tempat kediaman pribadi Marvel dan Sharon berdiri. Rumah itu megah, tenang, dan menyimpan sunyi seperti seseorang yang menanti terlalu lama tanpa kepastian. Langit kelabu, dedaunan basah, dan lampu-lampu taman menyala redup, menyambut mobil hitam yang perlahan memasuki pekarangan. Sharon mendongak dari jendela ruang baca. Tangannya refleks memegang d**a. Mobil itu ... mobil Marvel. Jantungnya berdegup tidak karuan. Sudah hampir sebulan sejak terakhir kali pria itu menginjakkan kaki di rumah ini. Dia tak pernah benar-benar pamit. Hanya pesan singkat di malam-malam yang panjang dan sunyi yang kadang tak pernah dibalasnya. Dan Sharon tak pernah bertanya lebih dari yang Marvel ingin jawab. Dia berdiri, menata bajunya. Tak ada riasan berlebih di wajahnya,