Jendra menatap perumahan di hadapannya, di negara Switzerland, tempatnya bermukim belakangan ini. Hidupnya terasa damai namun tak benar-benar damai di hatinya. Dia mengingat salah satu kenalannya. Orang yang diminta membunuh Winda dan juga anak Simon yang bahkan belum diberi nama itu. “Kenapa, Kek?” tanya Dista, cucu Jendra yang baru saja masuk kuliah. Jendra menatap cucu perempuannya yang cantik itu sambil menggeleng kecil, “enggak apa-apa.” “Kek, kakek enggak bisa menyembunyikan apa-apa dariku, kakek ingat itu kan?” ucap Dista sambil tertawa. Jendra menarik napas panjang, “di mana kakek bisa melakukan penebusan dosa?” tanya Jendra membuat Dista mengernyitkan kening. “Kakek melakukan apa?” “Kesalahan fatal, sangat fatal. Kakek butuh istirahat Dista, jantung kakek sakit,” tutur Jen