Cathy memandang kakaknya yang tampak berkali-kali menghela napas panjang, duduk di beranda rumahnya pada malam hari. Rumah itu merupakan tipe rumah tua sederhana, namun cukup rapih. Terletak di perumahan yang bahkan sudah dibangun sejak mereka berdua belum lahir. Kursi kayu dengan alas busa tipis seperti menjadi tempat nyaman bagi pria berusia tiga puluhan itu memandang rembulan yang tampak malu, menyembunyikan sebagian wajah di balik awan gelap. “Kenapa sih, Mas?” tanya Cathy, membawa teh manis dingin dan menyeruputnya tanpa menawarkan sang kakak. “Mulai besok,” ujar Alfi, asisten dari Marvel Sinathrya itu menoleh pada adiknya. “Temani Sharon lebih banyak,” imbuhnya. “Ya, tapi kenapa?” tanya Cathy. Alfi memejamkan mata beberapa saat. “Perusahaan sedang dilanda krisis diam-diam. Penga