46. Takdir, Dendam atau Damai?

1686 Kata

Senja mulai turun perlahan, membasuh langit Jakarta dengan semburat jingga yang hangat. Kafe kecil itu tampak tenang, tak terlalu ramai, hanya sesekali terdengar denting sendok dan obrolan kecil para pengunjung. Di sudut dekat jendela, Sharon duduk lebih dulu, menatap gelas cappuccino yang sudah mulai mendingin. Jari-jarinya gemetar, bukan karena suhu ruangan, melainkan karena kegundahan yang telah menyesakkan dadanya selama berhari-hari. Beberapa menit kemudian, Yasha datang. Seperti biasa, dengan senyum tipisnya yang tenang, tubuh jangkungnya mengenakan kemeja abu-abu yang digulung hingga siku. Aroma kopi langsung memeluknya begitu ia duduk di hadapan Sharon. “Maaf ya, sempat nyasar. Kafe ini nyempil banget,” ucapnya sembari terkekeh kecil. Sharon tersenyum samar. “Enggak apa-apa. Ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN