Mobil Kevin meluncur meninggalkan halaman rumah yang baru saja mengusirnya. Lampu jalan memanjang di kaca depan seperti garis-garis putih yang terus bergerak mundur. Tidak ada yang berbicara di dalam mobil. Natasha duduk di kursi penumpang dengan wajah masih merah karena marah. Tangannya sesekali mengepal di pangkuannya. “Semua ini benar-benar sudah gila,” gerutunya akhirnya. “Berani-beraninya dia—” Kevin tetap menatap jalan di depan tanpa menoleh sedikit pun. Rahangnya masih keras, tetapi wajahnya sudah kembali tenang. Beberapa menit berlalu. Natasha akhirnya menoleh. “Vin, kita mau ke mana?” Kevin baru menjawab setelah beberapa detik. “Ke rumah Mama dulu.” Natasha mengerutkan kening. “Rumah Mama?” Kevin mengangguk pelan. “Mama turun saja di sana.” “Maksud kamu?” tanya Natasha.

