“Nggak perlu!” Suara Bravy masih menggantung di udara ketika Amanda tiba-tiba meraih tangannya. Seketika itu pula tubuh Bravy sedikit tersentak. “Apapun yang kamu bilang, Brave,” ucapnya pelan. Bravy menoleh cepat, di sana ia melihat sesuatu yang berbeda dari sorot mata Amanda. “Aku percaya sama kamu,” lanjutnya. Rahang Bravy sedikit mengendur. Tanpa sadar, ia membalas genggaman itu pelan-pelan. "Nah gitu, dong!" “Tapi ....” Amanda menarik napas dalam-dalam, “sekarang biarin aku juga buat ambil langkah.” Ia melepaskan tangan Bravy perlahan dan mengulurkan tangan di hadapan Bravy. “Ponselku.” "Buat apa?" Bravy menatapnya beberapa detik. Ia tahu benda kecil itu adalah gerbang menuju masa lalu yang penuh racun bagi Amanda. Namun, ketika ia menunggu dan tak ada jawaban dari Amanda,

