Bab 20. Pulih

1178 Kata
"Bagaimana keadaannya hari ini?" "Tuan Bravy, semua sudah jauh lebih baik," jawab dokter Taulani selaku dokter ortopedi yang menangani Amanda. Memang Fajar baru saja menyentuh ufuk timur ketika aktivitas di kediaman Bravy sudah dimulai. Rumah megah itu tak lagi sekadar menjadi tempat tinggal. Satu sayap bangunan telah diubah total menjadi ruang perawatan dengan fasilitas setara rumah sakit swasta. Monitor jantung berdetak stabil, infus tergantung rapi, dan aroma antiseptik samar bercampur dengan wangi kayu mahal dari interior rumah. Dua perawat berjaga bergantian. Seorang dokter spesialis ortopedi duduk meneliti hasil rontgen terbaru yang baru saja dikirim dari ruang radiologi portabel. Semua dilakukan secara cepat, presisi, dan tanpa satu pun celah kesalahan. Di balik pintu kaca buram itu, Amanda terbaring dengan wajah yang jauh lebih segar dibanding dua minggu lalu. Warna pucatnya mulai tergantikan rona lembut kehidupan. Bravy berdiri di samping tempat tidur, masih mengenakan kemeja yang belum sempat ia ganti sejak semalam. Tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari wajah Amanda. “Semua tulangnya sudah pulih?” tanyanya lagi. “Tulang rusuk yang retak mulai menyatu dengan baik. Respon sarafnya juga stabil. Secara umum, progresnya sangat bagus,” jawab dokter itu secara profesional. Bravy mengangguk pelan. Rahangnya mengendur sedikit, seolah beban yang menekan dadanya sedikit berkurang. “Pastikan fisioterapinya dimulai lebih intens besok. Saya tidak mau ada risiko kelumpuhan sekecil apa pun,” ucapnya. Semua orang di ruangan itu tahu jika tak ada kata ‘hemat’ dalam kamus Bravy untuk urusan Amanda. "Baik, Tuan," jawab Dokter Taulani. "Tuan Bravy, laporan dari dokter syaraf, semua aman. Tapi ...." "Tapi apa?" nada dingin terdengar dari suara Bravy. Membuat dokter bedah yang baru saja mendekat sedikit ragu untuk melanjutkan kata-katanya. "Tapi ....apakah Anda yakin dengan tindakan bedah itu?" Bravy sedikit mengangkat dagunya. "Apakah aku memintamu untuk merubah wajahnya?" "Tidak, Tuan," jawab dokter itu tergagap. "Ingat, jangan pernah rubah apapun darinya. Aku tidak ingin wanitaku berubah, aku hanya mau kamu ... ya ... sedikit memperbaikinya." Bravy mengucapkan tanpa sedikit pun berekspresi. "Ba-baik, Tuan Bravy." Hanya itu yang saat ini ada di pikiran Bravy. Mengembalikan Amanda seperti sedia kala, dengan tubuh yang sempurna, dan wajah yang jauh lebih sempurna. Dengan cara itulah, Kevin akan menyesali hidupnya bahkan saat liang lahat sudah siap menyambutnya datang. "Aku pernah memberikannya padamu, tapi kau justru menyakitinya." Rahang Bravy mengetat. "Jangan salahkan aku!" -- Setiap dua minggu sekali, Amanda diterbangkan menggunakan jet pribadi menuju Singapura. Di sana, tim dokter spesialis trauma dan neurologi telah disiapkan jauh hari sebelumnya. Bukan rumah sakit biasa yang dipilih Bravy. Ia hanya mempercayakan kondisi Amanda pada fasilitas medis terbaik dengan teknologi paling mutakhir di Asia Tenggara. Seluruh prosedur dilakukan cepat. CT scan lanjutan, evaluasi tulang, pemeriksaan saraf, hingga terapi regeneratif terbaru. Tak ada yang namanya antrean, apalagi kompromi. Bravy selalu duduk di samping ranjang rawat VVIP dan mendengarkan setiap penjelasan dokter dengan detail. Ia mencatat sendiri poin-poin penting, bahkan sebelum asistennya sempat melakukannya. “Pemulihannya di atas ekspektasi,” ujar salah satu dokter spesialis. “Jika konsisten, dalam beberapa minggu lagi dia sudah bisa berjalan tanpa alat bantu.” Kalimat itu menjadi satu-satunya hal yang membuat Bravy akhirnya bisa tidur lebih dari tiga jam dalam semalam. Satu bulan Kemudian, Amanda duduk bersandar tanpa rasa nyeri. Tangannya yang dulu lemah dan tak bisa digerakkan, kini sudah mampu menggenggam gelas sendiri, meski masih sedikit gemetar. Bravy yang sedang membaca laporan di sofa langsung bangkit ketika melihat Amanda membuka mata lebih lama dari biasanya. “Amanda,” panggilnya pelan. Tatapan Amanda beralih kepadanya. "Bravy." "Kamu ngapain? Kan bisa minta tolong," ucap Bravy. "Ah, aku nggak selemah itu," ujar Amanda. "Nggak usah keras kepala, Manda." Brani berkata dingin. Amanda terdiam beberapa detik dengan sorot matanya melembut, “Aku … cuma nggak mau lemah lagi,” bisiknya. Kalimat itu sederhana. Namun bagi Bravy, itu adalah pernyataan perang. Ia mencondongkan tubuh sedikit, memastikan suaranya hanya terdengar oleh Amanda. “Kamu tidak akan menjadi lemah,” ujarnya mantap. “Selama aku masih bernapas, aku nggak akan biarin itu, Manda.” Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Amanda merasa benar-benar memiliki pilihan. Sedang tanpa mereka sadari, Kevin sudah mulai menyusun langkahnya di luar sana. Sementara itu, di kamar sunyi yang dipenuhi alat medis mahal, perlahan-lahan Amanda bukan hanya memulihkan tubuhnya, ia juga sedang membangun keberanian untuk menghancurkan masa lalunya. Pagi itu Amanda sudah bisa berdiri tanpa bantuan selama beberapa menit. Fisioterapisnya menghitung dengan suara pelan, sementara Bravy berdiri dua langkah di belakangnya, bersiap menangkap jika ia goyah. “Sembilan belas … dua puluh … bagus, Nona Amanda,” ujar fisioterapis itu. Amanda menarik napas panjang. Keringat tipis membasahi pelipisnya, tapi matanya menyala oleh tekad. “Aku bisa,” gumamnya. Bravy tidak tersenyum, tapi sorot matanya melembut. “Istirahat,” ucapnya tegas. “Aku belum capek,” sahut Amanda. “Kamu capek,” potong Bravy dingin. “Dan aku tidak mau progresmu rusak hanya karena keras kepala.” Amanda menoleh, kesal. “Aku bukan barang rapuh.” Bravy mendekat, suaranya merendah. “Kamu nggak rapuh, Manda. Tapi kamu berharga buat aku.” Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Siang harinya, jet pribadi Bravy kembali terbang ke Singapura. Seperti biasa, iring-iringan kendaraan hitam sudah menunggu di apron khusus. Amanda duduk di kursi roda hanya untuk formalitas. Ia sebenarnya sudah mampu berjalan perlahan, tapi Bravy tak mau mengambil risiko sekecil apa pun. Di ruang VVIP rumah sakit, dokter neurologi memaparkan hasil evaluasi terbaru. “Pemulihan saraf motoriknya sangat signifikan. Namun ada satu hal …,” dokter itu berhenti sejenak. “Apa?” suara Bravy langsung menegang. “Ada trauma psikis yang belum sepenuhnya pulih. Secara refleks, tubuhnya masih menunjukkan respon defensif ketika mendengar suara keras atau nama tertentu.” Nama itu tidak perlu disebut. Semua orang di ruangan tahu siapa yang dimaksud. Rahang Bravy mengeras, sedangkan Amanda yang mendengar hanya menunduk. Tangannya mengepal pelan di atas selimut. “Aku nggak akan takut,” katanya tiba-tiba. Dokter itu tersenyum tipis. “Bukan soal takut, Nona. Ini soal luka yang belum selesai.” Bravy menatap Amanda. Ada sesuatu yang berubah di mata wanita itu. Amanda bukan lagi sekadar korban yang ingin sembuh. Ada bara yang mulai menyala di sana. Malamnya, di kediaman Bravy, suasana mendadak berubah ketika kepala keamanan masuk dengan wajah tegang. “Tuan, Kevin sudah mencari ke mana-mana, dan sekarang dia menyebarkan wajah Amanda." Nama itu menggantung di udara seperti pisau. Amanda yang berada di balkon lantai dua mendengar percakapan itu. Ia tidak lagi gemetar seperti dulu. Perlahan, ia berdiri tanpa tongkat dan berjalan mendekat. “Dia nggak akan berhenti,” katanya pelan. Bravy menoleh. “Kamu nggak perlu memikirkan hal ini.” “Aku harus,” balas Amanda. “Ini bukan cuma urusanmu, Brave.” “Kamu mau apa?” tanya Bravy. Amanda tersenyum tipis. “Dia adalah pria obsesif. Dan aku ... sekarang aku harus menyerang.” Bravy terdiam beberapa detik. Lalu sudut bibirnya terangkat samar, senyum yang jarang muncul, dan selalu berarti bahaya bagi lawan. “Baik,” katanya pelan. “Kita buat dia menyesal.” “Apa aku boleh kembali ke rumah Papa?” Bravy langsung menolak. “Belum.” “Brave, tapi aku belum cerita apa pun sama Papa," ucapnya. "Nggak perlu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN