Hari berganti siang, lalu perlahan merambat menuju sore. Di kamar perawatan intensif itu, suasana tetap tenang meskipun irang terlihat sangat sibuk. Monitor jantung berbunyi stabil dengan ritme teratur. Cairan infus menetes perlahan melalui selang transparan ke pembuluh darah Amanda.
Ketiga dokter sudah bergantian melakukan pemeriksaan. Hasilnya cukup melegakan, karena tidak ada perdarahan otak besar, meski ada trauma ringan yang harus tetap dipantau. Beberapa tulang retak memerlukan tindakan lanjutan, tetapi kondisi keseluruhan Amanda dinilai stabil.
Namun, ada satu hal yang tidak berubah sejak pagi. Pria itu tidak pernah benar-benar meninggalkan Amanda, sejak pagi dia selalu berada di sisinya. Sebuah sofa empuk diletakkan di dekat ranjang. Kadang ia berdiri, kadang juga duduk, tetapi matanya selalu kembali pada wajah wanita yang masih tertidur itu. Seolah setiap detik saat dirinya menjauh adalah risiko yang tidak bisa ia terima.
Salah satu dokter sempat berkata hati-hati, “Tuan, sebaiknya Anda beristirahat sebentar.”
“Nggak perlu,” jawabnya datar.
Setelahnya, tidak ada yang berani memaksanya lagi. Beberapa jam kemudian, ketika ruangan mulai lebih sepi dan hanya tersisa bunyi alat medis, pria itu berdiri di depan cermin besar yang ada di sudut kamar.
Tangannya terangkat ke wajah. Perlahan, ia mulai menarik sesuatu dari kulit pipinya. Lapisan tipis itu mulai terlepas sedikit demi sedikit hingga ke bagian rahang, hidung, lalu dahi. Pada alhirnya topeng prostetik itu terkelupas dari wajahnya.
Wajah Kevin … menghilang dari wajahnya. Dengan gerakan kasar, ia membuang topeng kulit prostetik itu ke dalam tempat sampah. Sekarang, di tampilan cermin, sudah muncul wajah asli pria itu.
Garis rahang yang tegas dengan kulit lebih cerah. Sorot mata tajam dengan aura percaya diri yang kuat. Wajah tampan yang berbeda dengan Kevin. Wajahnya lebih dingin, lebih berbahaya, tetapi aura karismatiknya terpancar kuat.
Ia menatap topeng di tempat sampah itu dengan ekspresi jijik.
“Kalau bukan karena kamu …,” gumamnya pelan, “… aku nggak sudi merubah wajah tampanku jadi pria busuk itu.”
Tatapannya kemudian kembali ke Amanda, yang kali ini … tanpa penyamaran.
“Jangan lupa, Manda. Aku sudah memenangkan taruhan ini,” bisiknya.
Malam mulai turun, lampu kamar mulai menyala, tetapi tak terlalu terang. Hanya cahaya lembut dari lampu tidur dan monitor medis yang menerangi ruangan. Udara terasa lebih tenang dibanding siang tadi.
Di tengah keheningan itu, jari-jari Amanda bergerak sedikit. Namun, sedikit saja gerakan yang Amanda buat, pria itu langsung menyadarinya. Ia bangkit dari sofa dengan cepat dan langsung mendekat ke ranjang.
Kelopak mata Amanda mulai bergetar. Lalu perlahan terbuka. Pandangan matanya masih buram. Butuh beberapa detik sebelum fokusnya terbentuk. Ia melihat langit-langit ruangan yang tampak asing, lalu perlahan menggeser mata ke samping.
Sosok pria itu duduk di dekatnya sambil mengukir senyum tulus. Wajah tampan yang sangat dikenali oleh Amanda, tetapi yang jelas, itu bukan Kevin.
Bibir Amanda bergerak pelan, suaranya hampir tak terdengar.
“Bravy .…”
Pria itu membeku sesaat sebelum senyumnya melebar.
“Iya,” jawabnya pelan. “Aku di sini.”
Tangannya bergerak hati-hati, menggenggam jemari Amanda tanpa menekan terlalu kuat.
“Kamu selamat,” lanjutnya lembut. “Seperti yang aku janjikan.”
Di dalam kepalanya, satu kalimat bergaung kuat. "Akhirnya … kamu kembali padaku."
Amanda terdiam beberapa saat setelah mendengar suara Bravy. Kesadarannya memang sudah kembali, tetapi kepalanya masih terasa berat, seperti dipenuhi kabut tebal yang belum sepenuhnya menghilang.
Bayangan demi bayangan mulai bermunculan. Penghianatan Kevin dan Cecil di rumah itu, klinik itu, lalu ... beralih ke lampu jalan dan ... suara mobil yang melesat cepat, disusul cahaya pitih yang menyilaukan.
Tubuhnya tersentak kecil di atas ranjang saat bayangan kecelakaan itu terjadi .
“Manda … pelan,” suara Bravy langsung terdengar lebih dekat dari sebelumnya.
Amanda menoleh lemah ke arahnya. Matanya masih dipenuhi kebingungan.
“Apa yang terjadi?” suaranya serak, hampir seperti bisikan yang pecah.
Ia menelan ludah, mencoba mengumpulkan sisa tenaga. “Aku ingat jika waktu itu ada mobil yang nabrak aku, Brave.”
Tatapannya berubah gelisah. “Tapi … aku 'kan sama Kevin.”
Kalimat itu menggantung di udara. Iya dia ingat jika seharusnya bersama Kevin. Lalu bagaimana bisa sekarang yang ada di depannya justru Bravy, dan bukan Kevin? Bukan pria yang seharusnya bersamanya saat kejadian itu.
Bravy tidak langsung menjawab. Ia justru mendekat sedikit, duduk di tepi ranjang. Tangannya terangkat perlahan, lalu mengusap kening Amanda dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah Amanda adalah sesuatu yang rapuh dan bisa hancur kapan saja.
“Ternyata … tujuh hari nggak cukup buat kamu bertahan, Man,” ucapnya pelan.
Amanda mengernyit lemah. “Apakah … ini sudah tujuh hari?” tanyanya.
Bravy menggeleng kecil dengan sorot mata yang berubah lebih dalam.
“Belum,” jawabnya tenang. “Tapi tulang-tulangmu sudah retak dan kamu … jatuh.”
Amanda memejamkan mata sebentar, mencoba mencerna maksud kalimat itu.
Jatuh.
Bukan hanya kecelakaan, ada sesuatu yang terasa janggal. Perlahan ia membuka mata lebih lebar.
“Lalu, apakah aku harus menunggu lebih lama dari itu?” tanyanya lirih.
Kalimat itu membuat Bravy terdiam. Untuk sesaat, ekspresi dingin yang biasa melekat di wajahnya menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Campuran lega, kesal, dan rasa memiliki yang nyaris obsesif.
Ia menggenggam tangan Amanda lebih erat, tetapi tetap berhati-hati agar tidak menyakitinya.
“Kali ini nggak perlu,” katanya rendah. “Aku nggak akan biarin kamu terluka lebih banyak lagi.”
Amanda menatapnya teduh.
“Aku … bukankah aku harusnya ada di rumah sakit?" gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ada jeda panjang di sana yang membuat Bravy tersenyum tipis. Senyum yang tidak sepenuhnya hangat.
“Kevin yang ada di sana,” ujarnya. “Dan biarkan ia tetap di sana."
Amanda mengerjapkan mata pelan. Otaknya masih lambat bekerja, tetapi satu perasaan mulai muncul di dalam dirinya. Aneh memang … tapi aman. Ia tahu jika ia akan aman selama bersama Bravy. Seolah keberadaan pria di depannya adalah sesuatu yang sudah sangat lama ia kenal.
"Maafkan aku, Man," ucap Bravy lagi.
“Kenapa?" tanya Amanda.
Bravy menatapnya tanpa berkedip. "Karena harusnya aku membawamu saat itu juga. Harusnya tidak perlu menunggu tujuh hari buat jemput kamu."
Amanda tersenyum kecil kemudian. "Setidaknya ku masih melihatku hidup, Brave."
Ssungguhnyq bukan kata itu yang ingin Bravy katakan. Maafnya adalah karena dirinya tidak pernah benar-benar pergi. Namun, kalimat itu hanya ia simpan di dalam kepalanya.
Yang keluar justru jauh lebih sederhana.
“Sekali lagi kamu ngomong yang aneh-aneh. Akan aku minta dokter menjahit mulutmu.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Monitor jantung berdetak stabil..Amanda memandangi wajah Bravy beberapa detik lebih lama. Lalu tanpa sadar, jemarinya bergerak sedikit membalas genggaman Bravy.
"Maaf itu harusnya aku yang mengatakannya. Maaf, Brave."
Satu keyakinan mengeras di hati Bravy bahwasannya taruhan ini … memang sudah dimenangkan.