Bab 16. Siapa Kamu?

1237 Kata
“Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Amanda …,” suara Barata berubah rendah dan penuh ancaman, “… aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku.” Kevin menunduk. “Aku juga tidak akan memaafkan diriku sendiri, Pa". Saat keheningan tercipta di antara keduanya. Seorang perawat berlari kecil menghampiri mereka dengan wajah tegang. "Dokter Kevin!" teriaknya. Baik Kevin maupun Barata langsung menoleh bersamaan ke arahnya. “Ada kabar dari bagian keamanan,” ucapnya cepat. “Kami menemukan sesuatu di parkiran belakang. Rekaman kamera luar masih berfungsi.” “Apa?” tanya Kevin. Perawat itu mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat karena berlari. “Kami melihat pasien atas nama Amanda dibawa masuk ke dalam sebuah mobil. Dan … orang yang membawanya sepertinya bukan orang asing.” Jantung Kevin berdegup keras. “Siapa?” tanya Barata tajam. Perawat itu ragu sesaat sebelum kembali menjawab dengan sudut mata yang melirik ke arah Kevin. “Pria itu … mirip sekali dengan dokter Kevin.” "Jangan ngaco kamu!" hardik Kevin dengan jari telunjuk yang ia arahkan kepada perawat itu. Ruangan keamanan rumah sakit terasa pengap oleh ketegangan yang ada di dalamnya. Monitor-monitor CCTV berjajar di dinding, menampilkan berbagai sudut parkiran dan lorong luar gedung. Kevin dan Baratayuda berdiri di depan layar utama, sementara petugas keamanan memutar ulang rekaman yang dimaksud. “Ini, Pak. Sekitar pukul tujuh lewat sepuluh,” ujar petugas itu pelan. Kursor diketuk pelan, hingga membuat gambarnya bergerak. Sebuah pintu darurat terbuka dan seorang pria keluar sambil mendorong kursi roda. Di mana, Amanda duduk di sana dengan kepala terkulai ke samping. Sedangkan selimut rumah sakit masih menutupi sebagian tubuhnya. Namun, bukan Amanda yang membuat Kevin membeku. Melainkan pria yang mendorong kursi roda itu. Mulai daei postur tubuhnya, cara berjalannya, hingga bentuk bahunya. Semuanya … sama. Pria itu mengenakan jas dokter putih, lengkap dengan masker medis yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, saat ia sedikit menoleh ke arah kamera, Kevin benar-benar terkejut. Karena wajah yang ada di kamera pengawas, hampir identik dengan dirinya sendiri.. Pria itu berhenti sejenak, lalu dengan sengaja melirik tepat ke arah kamera pengintai. Terlihat seringai kecil dari sudut matanya. Senyum tipis penuh ejekan, seakan tahu jika seseorang nanti pasti akan melihat rekaman itu. Lalu ia mendorong kursi roda Amanda menuju sebuah mobil hitam yang sudah menunggu. Pintu belakang dibuka, Amanda diangkat masuk dengan hati-hati, dan dalam hitungan detik mobil itu melaju pergi keluar area parkiran. Baratayuda berbalik perlahan ke arah Kevin. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras menahan amarah yang hampir meledak. “Kamu bilang kamu nggak tahu,” suaranya rendah. “Tapi apa itu?” Ia menunjuk layar dengan keras. “Itu kamu ‘kan, Kevin?!” Kevin menggeleng cepat, “Bukan, Pa. Itu bukan aku. Aku nggak bawa Amanda. Demi Tuhan aku nggak tahu siapa dia!” Baratayuda maju satu langkah, jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. “Kamu pikir aku bodoh?!” bentaknya. “Wajahnya sama dengan tubuh yang sama! Bahkan dia juga pakai jas dokter! Siapa lagi kalau bukan kamu?!” “Tapi itu bukan aku!” suara Kevin ikut meninggi karena panik. “Aku baru sampai rumah sakit setelah dari—” Dengan cepat kalimatnya terhenti. Untung saja ia cepat sadar. Tentu saja ia tidak mungkin menjelaskan dari mana ia datang tanpa membuka rahasia tentang Cecilia. Namun, jeda itu justru memperburuk keadaan. Mata Baratayuda berubah semakin gelap. “Cari dia sampai ketemu,” desisnya pelan dan penuh ancaman. “Sebelum tubuhmu aku mu ti la si dengan tanganku sendiri!” Ucapan itu bukan sekadar amarah sesaat. Kevin tahu jika kata-kata Baratayuda adalah sebuah ancaman. Kevin menelan ludahnya dengan susah payah, dan dentuman di dadanya terasa semakin keras. Namun di balik kepanikan itu, muncul pikiran-pikiran lain di dalam kepalanya. Pria di rekaman itu bukan hanya mirip dirinya, tetapi hampir sempurna seperti dirinya. Hanya ada satu kemungkinan yang masuk akal di kepalanya saat itu. Seseorang telah sengaja menyamar menjadi dirinya atau ... seseorang memang memiliki wajah yang sama dengannya. Kevin menatap ulang layar monitor yang kini membeku pada gambar wajah pria itu. Perasaan dingin segera merambat di tulang punggungnya. “Siapa kamu …?” bisiknya lirih. -- Mobil hitam tanpa plat nomor itu melaju cepat meninggalkan area rumah sakit, membelah lalu lintas pagi yang mulai padat. Di kursi belakang, tubuh Amanda terbaring lemah dengan kepala bersandar pada sandaran jok. Selimut rumah sakit masih membungkus tubuhnya, sementara napasnya terdengar pelan tapi tetap stabil. Pria yang duduk di sampingnya terus memperhatikan setiap gerakan kecil Amanda. Beberapa menit kemudian, mobil itu memasuki sebuah kawasan perumahan elite yang tenang. Gerbang besi tinggi terbuka otomatis ketika kendaraan mendekat, memperlihatkan sebuah rumah besar bergaya modern klasik. Bangunannya megah, tetapi tidak berlebihan, lebih menunjukkan kekuatan dan kendali daripada kemewahan mencolok. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Belum sempat sopir turun, pria itu sudah lebih dulu membuka pintu belakang. Dengan gerakan hati-hati, ia menyelipkan satu tangan di bawah punggung Amanda dan tangan lain di bawah lututnya. Ia mengangkat tubuh Amanda secara perlahan. Seolah sedikit saja gerakan kasar bisa menghancurkan tulang-tulangnya. “Amanda …,” bisiknya sangat pelan. "Sesungguhnya bukan seperti ini caraku menjemputmu." Pintu rumah terbuka lebar dari dalam dan beberapa orang sudah menunggu di sana. Ada tiga dokter utama di sana, masing-masing dengan asisten pribadi yang membawa peralatan medis portabel. Seorang dokter ortopedi paruh baya dengan wajah serius. Seorang dokter saraf wanita yang tampak tenang. Serta seorang ahli bedah dengan ekspresi profesional. “Mereka sudah siap sejak tadi, Tuan,” ujar seorang asisten rumah tangga saat mendekat. Pria itu hanya mengangguk singkat dan lantas membawa Amanda masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu luas menuju sebuah kamar di lantai dasar yang telah diubah menjadi ruang perawatan pribadi. Tempat tidur medis lengkap dengan monitor tanda vital, alat infus, hingga perlengkapan penunjang lain sudah tersedia. Sekarang, kamar itu lebih tepat disebut sebagai rumah sakit pribadi. Amanda dibaringkan perlahan di atas ranjang. Begitu tubuhnya menyentuh alas, para dokter langsung bergerak cepat. “Tekanan darah stabil.” “Nadi lemah tapi teratur.” “Kita perlu CT scan ulang untuk memastikan tidak ada perdarahan otak lanjutan.” Instruksi terdengar bersahutan dari ketiga dokter ahli dalam bidangnya. Dokter ortopedi memeriksa bagian kaki dan lengan Amanda dengan hati-hati. “Ada beberapa fraktur yang belum ditangani optimal,” katanya serius. Dokter saraf menyorotkan senter kecil ke pupil mata Amanda. “Respons lambat … tapi masih ada. Itu kabar baik.” Sementara ahli bedah memeriksa catatan medis yang diberikan asisten. Pria itu berdiri beberapa langkah dari ranjang, memperhatikan semuanya dengan tatapan dingin. Tak ada satu pun dokter yang berani bersantai di bawah sorot matanya yang tajam itu. “Pastikan dia sembuh total,” ucap pria itu akhirnya. Suaranya begitu tenang, tetapi mengandung perintah mutlak yang tidak bisa ditawar. Ketiga dokter itu langsung mengangguk hampir bersamaan. “Baik, Tuan,” jawab dokter saraf. “Kami akan lakukan yang terbaik.” “Bukan yang terbaik,” potong pria itu pelan. “Yang sempurna!” Ruangan langsung hening. Tak ada yang berani membantah ataupun bersuara. Sebab, semua orang di sana tahu … pria itu bukanlah orang sembarangan. Ia melangkah mendekat ke ranjang, menatap wajah Amanda yang pucat. Jari tangannya terangkat perlahan, hampir menyentuh pipi Amanda, tetapi segera berhenti beberapa sentimeter sebelum kulit itu. “Aku sudah membawamu,” bisiknya lirih. "Jangan lupa taruhanmu." Di luar kamar, salah satu asisten berbisik pelan kepada rekannya. "Wanita itu … siapa sebenarnya?” Asisten lain segera meletakkan jari di ujung bibirnya. “Kamu baru kerja, ya?” bisiknya balik. “Jangan banyak tanya, yang penting bayarannya masuk.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN