Bab 15. Menghilang

1372 Kata
Pagi itu, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah tirai rumah Cecilia. Kevin terbangun dengan tubuh yang masih terasa lelah. Kepalanya berdenyut nyeri seolah sedang mengingatkannya pada semua yang terjadi semalam. Ia hampir bangkit ketika suara tangisan bayi membuatnya terhenti. Tangisan itu terdengar dari kamar sebelah. Refleks, Kevin bangkit dan berjalan menuju sumber suara. Ia mendorong pintu kamar bayi itu perlahan dan menemukan Sean yang meronta dalam box bayinya. "Papa di sini, Sean," bisik Kevin sambil mengangkat tubuh mungil anaknya. Ia menggendong Sean dengan hati-hati, menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut hingga tangisan itu mulai mereda menjadi isakan kecil. Kevin menatap wajah Sean yang begitu polos, tidak tahu apa-apa tentang kerumitan hidup yang sedang Kevin hadapi. Entah kenapa, melihat wajah Sean membuatnya teringat pada Amanda. Amanda yang saat ini tengah sendirian di rumah sakit dan terbaring tidak sadarkan diri. "Kak Kevin sudah bangun?" Cecilia muncul di ambang pintu dengan senyum manis. Ia mengenakan apron, sepertinya baru saja selesai memasak. "Aku buatin sarapan. Ayo sarapan dulu sebelum pulang." Kevin hanya mengangguk. Ia menyerahkan Sean pada Cecilia, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, rasa bersalah itu kembali menghantam dadanya dengan keras. "Apa yang sudah kulakukan?" gumamnya. Ia menghabiskan sarapan dengan cepat, mencoba mengabaikan tatapan Cecilia yang terus mengikutinya. Setelah itu, Kevin berpamitan. "Aku harus kembali ke rumah sakit," ucapnya singkat. "Hati-hati di jalan, ya," bisik Cecilia sambil mengecup pipi Kevin. "Nanti kabarin, ya." Ketika sampai di kamar rawat Amanda, betapa terkejutnya Kevin saat melihat ke dalam kamar. Ranjang yang semalam ditiduri Amanda kosong dan tampak bersih. "Loh, kok?!" Hatinya langsung berdebar kencang. Kevin melangkah masuk dengan panik, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Amanda ... tidak ada. "Suster!" Kevin berlari keluar, menghentikan seorang perawat yang sedang lewat. "Pasien di ruangan ini, Amanda ... ke mana dia?" Perawat itu melirik papan data di tangannya. "Maaf Pak, saya tidak tahu. Saya baru mulai shift pagi ini." Kevin berlari ke nurse station, mencari suster jaga malam. Tapi tidak ada yang bisa memberinya jawaban pasti. Semua hanya menggeleng, mengatakan tidak melihat ke mana Amanda pergi. "Bagaimana bisa?" Kevin hampir berteriak. "Rumah sakit seluas ini, masa tidak ada yang lihat dia pergi? Dia masih dalam kondisi lemah! Dia tidak mungkin jalan sendiri!" Salah satu suster mencoba menenangkannya. "Tunggu, Dok. Saya tanyakan ke dokter jaga." Beberapa menit yang terasa lama, seorang dokter muda menghampiri Kevin. "Dokter Kevin?" ucap dokter itu. "Saya dokter jaga semalam. Pasien atas nama Amanda sudah dipulangkan tadi pagi, sekitar jam tujuh." Kevin tercenung. "Dipulangkan? Oleh siapa?" "Oleh suaminya,," jawab dokter Rendra sambil mengecek catatan medisnya. "Suaminya?" Kevin tertegun. "Siapa suaminya?" tanya Kevin dengan wajah yang sudah memerah. "Seorang pria datang pagi tadi dan mengaku sebagai suami pasien. Beliau menandatangani surat pernyataan pulang paksa. Kami sudah menjelaskan risikonya, tapi beliau tetap bersikukuh membawa pasien pulang," jawab dr. Rendra sang dokter jaga. Dunia Kevin seperti berhenti berputar. "Lancang sekali kamu!" bentak Kevin. "Kamu dokter jaga, kamu juga dokter baru di sini. Bagaimana mungkin kamu memberi izin seorang pasien kritis untuk bisa pergi tanpa konfirmasi dulu ke saya? Atau ke dokter Anwar?!" Tangan kanan Kevin sudah terangkat ke atas, hendak memberikan tamparan keras. Namun, ia tahan sebisa mungkin, karena ia tahu jika ini di rumah sakit. "Katakan, siapa suaminya!" Kevin meraih lengan dokter itu dengan kasar. "Saya adalah keluarganya, lalu siapa yang membawanya?" Dokter Rendra tampak bingung. "Tapi ... pria itu menunjukkan identitas dan menandatangani berkas dengan nama Kevin." "Kevin?" gumamnya. "Dokter Kevin, kenapa bisa di sini tertulis atas nama dokter Kevin? Bukankah berkas pasien masuk, dokter Kevin menuliskan sebagai kakaknya. Bagaimana sekarang berubah menjadi—" "Diam kamu!" potong Kevin tegas. Kevin merasa dadanya begitu sesak. Di dalam kepalanya saat ini dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Siapa yang berani mengaku sebagai dirinya? Siapa yang tahu Amanda ada di sini? Dan yang paling penting, di mana Amanda sekarang? "CCTV!" Kevin hampir berteriak. "Lihat rekaman CCTV!" Tak ingin banyak berdebat, akhirnya dokter Rendra, beberapa perawat, dan petugas keamanan rumah sakit segera bergerak. Namun, harapan Kevin harus pupus ketika petugas keamanan mengatakan bahwa kamera di koridor lantai itu sedang dalam perbaikan sejak kemarin sore. "Apa? Bagaimana bisa? Nggak becus!" Kevin tampak begitu murka. Kevin berdiri di tengah lorong rumah sakit yang kini mulai ramai. Ia merasa dunianya runtuh saat Amanda menghilang. Ia sendiri bahkan tidak tahu harus mencarinya ke mana. Tangannya gemetar saat meraih ponsel, mencoba menghubungi nomor Amanda. 'Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif.' "Arkh! Sialan!" Nomor Amanda mati dan tidak tersambung. Kemudian Kevin mencoba untuk menghubungi keluarga Amanda. "Papa," sapanya begitu panggilan itu terhubung. "Apa Papa tahu di mana Amanda sekarang?" tanyanya ragu-ragu. "Apa maksudmu, Kevin?" suara itu menggelegar dari ujung telepon. "Bagaimana bisa kamu tanyakan istrimu padaku? Dia 'kan istrimu, tentunya kamu lebih tahu!" "Pa, Papa tenang dulu," ucap Kevin lirih. "Bagaimana aku bisa tenang?" ujar Baratayuda. "Katakan, di mana kamu sekarang?" Kevin tercekat, ia terdiam beberapa saat. Apakah harus ia mengatakan jika dirinya sedang ada di rumah sakit. Apakah dia berani mengatakan jika Amanda baru saja kecelakaan semalam? Lalu aoa yang akan dilakukan oleh mertuanya itu? "Kevin, di mana kamu sekarang?" ulang Barata. "Di ... di rumah sakit, Pa," jawab Kevin pada akhirnya. "Tunggu aku di situ, awas kalau kamu berani pergi!" ancam Barata yang langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Kevin terduduk lemas di bangku tunggu. Pikirannya kembali ke semalam. Saat Amanda terbaring sendirian, ia justru ada di pelukan Cecilia. Saat Amanda mungkin membutuhkannya, ia malah .... "Amanda ...," bisiknya pelan. "Di mana kamu?" Tak sampai dua puluh menit, suara langkah sepatu yang tergesa terdengar di lorong rumah sakit. Beberapa orang menoleh ketika seorang pria paruh baya dengan wajah tegang berjalan cepat. Tatapannya tajam dengan napas memburu, seolah amarah menjadi bahan bakar di setiap langkahnya. Dialah Baratayuda. Kevin yang masih duduk di kursi tunggu mengangkat kepala ketika bayangan itu berhenti tepat di depannya. Belum sempat ia berdiri, tangan Barata sudah lebih dulu mencengkeram kerah bajunya dengan keras. “Katakan, di mana anakku?!” bentak Barata dengan suara yang menggema keras di lorong hingga beberapa perawat refleks menoleh panik. Kevin terkejut. Tubuhnya terdorong sedikit ke belakang oleh kekuatan pria itu. “Pa … Pa, dengar dulu—” “Jangan panggil aku Papa!” potong Barata dengan mata memerah. “Kamu bilang kamu di rumah sakit. Kenapa? Apa yang terjadi dengan Amanda?!” Kevin menelan ludah dengan susah payah saat tenggorokannya terasa kering. “Amanda … kemarin Amanda kecelakaan,” ucapnya akhirnya dengan suara pelan. Tubuh Baratayuda membeku delama beberapa detik.. Wajah pria itu perlahan berubah dari marah menjadi syok, lalu kembali menjadi kemarahan yang jauh lebih besar. “Kecelakaan?” ulangnya pelan. “Anakku kecelakaan … dan kamu baru bilang sekarang?” Kevin tidak berani menatap mata mertuanya. “Dia sempat dirawat di sini, Pa. Tapi … pagi tadi dia … dia dibawa pulang seseorang.” Barata langsung menarik kerah Kevin lebih keras. “Siapa?!” “Seorang pria datang, mengaku sebagai suaminya … dengan memakai namaku,” lanjut Kevin cepat. “Rumah sakit akhirnya mengizinkannya pulang paksa. Aku juga baru tahu tadi.” Barata mendorong Kevin hingga punggungnya membentur kursi. “Kamu ini suami macam apa?!” bentaknya. “Istrimu kecelakaan, dirawat, lalu dibawa orang lain … dan kamu tidak tahu?! Kamu ke mana semalam?!” Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk tepat ke d**a Kevin, dan justru kediamannya itulah yang membuat Barata semakin murka. “Kamu ke mana?!” teriak Barata. Kevin mengepalkan tangan. Rasa bersalah memenuhi seluruh tubuhnya. “Aku … aku ada urusan,” jawabnya lirih. Barata tertawa sinis. “Urusan katamu? Anakku sekarat, dan kamu punya urusan sendiri?” Tangan Barata terangkat. PLAK! Tamparan keras itu mendarat di pipi Kevin hingga kepalanya terlempar ke samping. Beberapa orang di lorong terkejut, tapi tak ada yang berani mendekat. “Itu untuk anakku,” ujar Barata dengan suara bergetar menahan emosi. “Sekarang jawab aku jujur … kamu tahu siapa yang membawa Amanda?” Kevin menggeleng pelan. “Tidak, Pa. Aku juga sedang cari tahu.” Barata menatapnya tajam, mencoba membaca kebohongan di wajah Kevin. Namun, yang ia lihat hanya kepanikan dan rasa bersalah yang nyata. “Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Amanda …,” suara Barata berubah rendah dan penuh ancaman, “… aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN