Bab 14. Pelarian

1001 Kata
Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus malam. Jalanan yang sepi membuatnya semakin memacu gas. Pikirannya kacau, hatinya hancur, dan yang ia butuhkan saat ini hanyalah ... pelarian. Ia tidak tahu kenapa kakinya secara otomatis mengarahkan mobilnya ke rumah Cecilia. Mungkin karena suara Sean tadi di telepon membuatnya merasa tenang. Atau mungkin karena ia butuh seseorang yang tidak akan menghakiminya, tidak akan menatapnya dengan tatapan kecewa seperti yang selalu Amanda lakukan akhir-akhir ini. Mobil Kevin akhirnya berhenti tepat di depan rumah Cecilia. Matanya langsung tertuju pada jendela yang gelap. Lampu tampak padam, pertanda jika penghuninya mungkin sedang tertidur. Itu artinya Cecilia benar-benar ada di rumah dan tidak ke mana-mana. Kevin menghela napas lega. "Jadi memang bukan dia," gumamnya pada diri sendiri, merasa bodoh karena sempat berpikir buruk tentang Cecilia. Ia turun dari mobil dan berjalan gontai menuju pintu. Tangannya mengetuk pintu beberapa kali. "Cecil ... buka pintunya," panggilnya dengan suara serak. Tidak ada jawaban. Kevin mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Cecilia dengan rambut sedikit berantakan dan mengenakan daster tidur. "Kak Kevin?" Cecilia menatap Kevin dengan mata membulat, seolah terkejut. "Kenapa wajahmu kusut? Ada apa?" Kevin tidak menjawab. Ia langsung menerobos masuk tanpa izin, membuat Cecilia sedikit terhuyung ke samping. Sesampainya di ruang tamu, Kevin langsung melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Dengan gerakan kasar, ia melepas jas kerjanya dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Kemudian ia merebahkan diri di sofa, menutup wajahnya dengan lengan. Cecilia menutup pintu pelan. Senyum tipis tersungging bibirnya, tetapi dengan cepat ia sembunyikan saat berbalik menghadap Kevin. Ia berjalan mendekati sofa dengan langkah pelan. "Kak Kevin ...," bisiknya lembut sambil duduk di samping Kevin. Tangannya perlahan terangkat, jari-jarinya mulai mengusap paha Kevin dengan sentuhan yang sangat lembut, penuh maksud. "Kak Kevin capek?" tanya Cecilia dengan nada yang dibuat sepolos mungkin. Kevin diam sejenak. Napasnya terdengar berat. Lengannya masih menutupi wajahnya, seolah ia malu atau tidak ingin Cecilia melihat air mata yang mungkin masih menggenang di matanya. "Amanda kecelakaan, Cil," jawab Kevin pada akhirnya. Suaranya pecah, penuh dengan emosi yang tertahan. Tangan Cecilia yang sedang mengusap paha Kevin terhenti sejenak. Tapi hanya sebentar. Ia segera melanjutkan gerakannya, bahkan lebih lembut dari sebelumnya. "Astaga ... serius?" tanya Cecilia dengan nada yang dibuat-buat khawatir. "Kok bisa? Terus gimana keadaannya sekarang? Parah?" Kevin menurunkan lengannya, menatap langit-langit rumah Cecilia. "Dokter bilang dia akan baik-baik saja. Tapi ... tapi aku nggak tahu, Cil. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa kalau semua ini salahku." "Jangan bilang gitu, Kak," bisik Cecilia. Tangannya kini berpindah ke d**a Kevin, mengusapnya pelan. "Itu 'kan kecelakaan. Bukan salah Kak Kevin." Kevin menutup matanya. Sentuhan Cecilia yang hangat, suaranya yang lembut, semuanya terasa seperti balsem untuk luka di hatinya. Ia tahu ini salah dan ia juga tahu jika tidak seharusnya ada di sini. Tapi ia terlalu lelah untuk peduli. "Aku hampir kehilangan dia, Cil," ucap Kevin pelan. "Dan saat aku hampir kehilangannya, aku baru sadar ... aku baru sadar betapa jahatnya aku sama dia selama ini." "Lalu ... bagaimana dengan anaknya? Kak Manda benar-benar hamil?" tanya Cecil ingin tahu, karena terakhir kali Kevin mengatakan jika akan segera memastikannya. "Nggak, Cil. Amanda nggak hamil," jawab Kevin. "Berarti dia udah nipu Kak Kevin, dengan mengatakan kalau dirinya hamil?" sela Cecil lagi. "Mungkin juga nggak, Cil. Wajar bila dia berharap." "Tapi Kak Kevin udah janji kalau hanya akan punya anak dari aku. Terus ini apa?" Cecilia merajuk. "Aku tahu, Cecil. Makanya aku juga kaget waktu Manda mual-mual. Mana mungkin dia bisa hamil jika obat itu masih terus ia konsumsi," lanjut Kevin. Cecilia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang ingin merekah di wajahnya. Tangannya terus bergerak, mengusap d**a Kevin dengan gerakan memutar yang sangat intim. "Kak Kevin terlalu keras pada diri sendiri," bisik Cecilia. "Aku yakin Kak Amanda tahu kalau Kak Kevin sayang sama dia." "Nggak, Cil." Kevin menggeleng pelan. "Aku nggak sayang padanya. Aku mungkin terlalu mencintainya. Tapi ... aku terlalu jahat karena bisa menduakannya denganmu." Kelopak mata Kevin mulai menggenang lagi. Cecilia mengangkat tangannya, menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. "Ssshh ... jangan nangis," bisiknya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kevin. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. "Sekarang Kak Kevin ada di sini. Sama aku, inget masih ada aku. Aku akan selalu ada buat Kak Kevin." Kevin menatap Cecilia. Mata perempuan itu begitu dalam, penuh dengan sesuatu yang ia tidak bisa pahami. Atau mungkin ia memang tidak ingin memahaminya. "Makasih, Cil," ucap Kevin pelan. "Terima kasih karena kamu selalu ada." Cecilia tersenyum. Tangannya kini beralih ke wajah Kevin, mengusap pipinya dengan lembut. "Aku juga istrimu, 'kan?" bisiknya dengan menempelkan bibirnya di telinga Kevin. Dengan gerakan halus, Cecilia mulai menautkan bibirnya dengan bibir Kevin, membuat bibir Kevin yang tadinya kering menjadi sedikit lebih basah. Jika hal ini sudah terjadi, apa lagi yang bisa Kevin perbuat selain ... pasrah. Karena ia tahu apa yang akan Cecilia berikan. Perlahan, Cecil membuka kancing kemeja Kevin satu per satu hingga membuat d**a bidang Kevin tampak jelas dibaliknya. Cecil melemparkannya begitu saja ke lantai. Ciumannya mulai turun ke d**a dan semakin turun, membuat Kevin lupa sesaat pada istrinya yang kini terbaring tak berdaya ddi rumah sakit. "Ah ... stop it, Cecil." Kevin mendesis pelan menahan setiap kenikmatan itu. Namun, Cecilia tak akan pernah berhenti. Ia berdiri dan membuka kakinya untuk kemudian duduk di atas tubuh Kevin. Permainan mereka semakin menjadi di atas sofa itu. Gerakan-gerakan liar yang biasa mereka lakukan pun tak dapat dihindarkan. "Enak, 'kan?" bisik Cecilia yang hanya dijawab oleh e r a n g a n kenikmatan oleh Kevin. "Kamu nggak akan bisa lepas dari aku, Kevin," batin Cecilia. Di balik senyumnya yang manis, ada kilatan kemenangan di mata Cecilia. Sementara Kevin, yang terlalu tenggelam dalam kesedihan dan kenikmatan yang menjadi satu, tidak menyadari bahaya yang sedang melingkupinya. Dan di rumah sakit yang tidak jauh dari sana, Amanda masih terbaring tidak sadarkan diri. Sendirian, tanpa tahu bahwa suaminya yang baru saja berjanji untuk berubah, kini sedang berada dalam pelukan perempuan yang telah menghancurkan hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN