Bab 2

1303 Kata
Edgar dan Amita membeku di tempatnya dan mereka sangat paham dengan apa yang di katakan Venus tadi. Sedangkan Venus yang emosinya sudah tak terbendung lagi memilih pergi ke club dan menghabiskan waktu nya disana sampai mabuk. # Di sisi lain, ada seorang laki laki yang berada di ruang VVIP juga sedang menikmati minumannya. Di sisi kiri dan kanannya ada dua sahabatnya yang sedang b******u dengan wanita bayarannya. "Terusin apa yang kalian lakukan. Aku pulang dulu!" Laki laki itu pergi dari ruang VVIP dengan wajah datarnya. Tapi saat dia sampai di ujung lorong, dia melihat seorang wanita tengah mabuk dan sedang di ganggu oleh laki laki lain. "Lepas!!" Wanita itu mencoba memberontak tapi tetap saja dia kalah tenaga dengan laki laki yang sedang mengganggunya. Mata Xafier menyipit melihat siapa wanita yang ada di depannya. Dan tak lama, mata Xafier membola saat mengingat siapa wanita itu. Bergegas Xafier menghampiri wanita mabuk lalu dengan cepat menarik tangan wanita itu hingga masuk ke dalam pelukannya. Bugh..... Xafier menghantam laki laki itu sampai laki laki itu terhuyung ke belakang. Laki laki itu ingin membalas tapi melihat siapa yang baru saja memukulnya dia mengurungkan niatnya. Dia memilih pergi dari sana karena tak ingin nyawanya melayang setelah ini. Xafier melihat wanita yang ada dalam pelukannya mulai tak sadar. Dia tersenyum tipis lalu menggendong nya dan membawanya pergi dari sana. "Akhirnya kita ketemu lagi kucing nakal." # Pagi hari, Venus mulai membuka matanya perlahan, tapi kepalanya terasa berat dan berdenyut. Dia perlahan bangun dan melihat sekeliling merasa aneh dengan kamar itu. Beberapa kali matanya mengerjap dan tak lama melebar. Dengan gerakan pelan dia melihat ke arah tubuhnya dan seketika bahunya lemas. Venus memukul kepalanya karena lagi lagi hal itu terjadi. "Astaga.... lagi...." "Kenapa kamu memukul kepala mu seperti itu?" Mata Venus kian membola saat mendengar ada suara laki laki di belakang tubuhnya. Suara yang dia ingat jelas sampai saat ini. Nggak mungkin dia. Venus mengigit bibir bawahnya karena takut apa yang ada dalam pikirannya menjadi kenyataan. Venus menoleh ke sumber suara dan sekali lagi jantungnya langsung berdegup dengan kencang. Mata Venus dan laki laki tadi bertatapan. "Ka-kai?" Laki laki mendekat ke arah Venus yang beringsut mundur sambil memeluk selimutnya dengan erat. "Ternyata masih ingat nama ku." "Kenapa kita bisa? Ah, bukan, kenapa kamu ada disini?" Laki laki yang di panggil Kai tersenyum, dia duduk di sebelah Venus dengan tatapan tajam tapi ada kelembutan disana. "Tak ingat apa yang terjadi semalam?" Tubuh Venus membeku, dia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya kemarin malam sampai dia berakhir kembali di ranjang milik laki laki yang ada di depannya ini. Kaito, laki laki yang setelah dua tahun dia hindari mati matian. Dan laki laki di depannya ini juga yang mengambil apa yang selama ini Venus jaga. Sekelebat bayangan muncul di mata Venus, mulai dari apa yang Venus lakukan kemarin dan sampai malam dia mabuk berat dan berakhir di pelukan laki laki yang ada di depannya ini. "Sudah ingat?" Venus perlahan mengangguk, dia mengigit bibir bawahnya karena merasa bingung apa yang harus dia lakukan. Dua kali dia terjebak malam panas bersama Kaito. Laki laki asing yang dia temui dua tahun lalu saat dia keluar negeri. Kaito yang melihat Venus mengigit bibir bawahnya menahan diri untuk tak menerkam gadis itu. Gadis yang dua tahun ini sudah membuatnya gila karena mencarinya. "Jangan di gigit, bibir mu bisa berdarah. Kenapa bukan aku saja yang mengigit nya?" Mata Venus membelalak mendengar perkataan Kaito. "Kenapa kamu selalu m***m saat bersamaku?" Kaito menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang tak percaya. "Aku m***m? Hei, semalam kamu yang menggodaku. m***m dari mana nya?" Venus merutuki kebodohannya, apalagi saat dia tengah mabuk berat pasti dia akan melakukan hal hal aneh nanti nya. Drrt.... Ponsel Venus bergetar dan itu telfon dari Adrian sang papa. Dimana kamu? Kenapa semalam tak pulang? Jangan macam macam Venus, kamu akan segera menikah!! Wajah Kaito mengeras karena dia yang mengangkat telfon dari Adrian. Venus yang melihat perubahan raut wajah Kaito langsung merebut ponselnya lalu mematikan sambungan telfonnya. "Kenapa kamu angkat?" Venus yang tak mendapat jawaban dari Kaito pun berdecak kesal. Dia mendorong tubuh Kaito untuk menyingkir karena dia harus segera kembali. Kaito yang melihat wajah marah dari Venus membiarkannya saja. Sampai Venus kembali memakai pakaiannya. Tanpa berpamitan Venus pergi dari kamar itu dengan wajah yang tak bersahabat. "Dia masih saja galak seperti dulu." Kaito meraih laci di dekatnya dan mengambil sebuah card ID yang berisi nama dan juga alamat Venus. "Aku nggak akan lepasin kamu lagi." # Venus pulang dengan taxi online karena dia tak menemukan dimana mobil miliknya. Berkali kali dia menghembuskan napas panjangnya. Bukan karena takut dengan papanya tapi karena dia memikirkan soal yang terjadi dengan nya. Huft, kenapa bisa aku bertemu dengan nya lagi. Aku sudah berusaha kabur dari nya sejak awal. Tapi kenapa malah dia juga ada di negara ini. Venus memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Tak berapa lama taxi itu memasuki area perumahan keluarga Venus. Wajah yang sejak tadi gelisah berubah menjadi datar dan dingin. Dia turun dari taxi, kembali memasang ekspresi wajah yang seperti sebelumnya. Tenang tapi matanya selalu tajam dan menyebalkan bagi orang orang yang tak suka dengan nya. Tangan Venus meraih gagang pintu dan membukanya pelan. Belum sempat dia melangkah masuk ke dalam suara tamparan keras. Plak.... Wajah Venus yang terkena tamparan itu sampai tertoleh ke samping. Venus berbalik dan melihat siapa yang berani menamparnya saat ini. Di depannya terlihat Adrian sedang menatapnya dengan wajah penuh amarah. "Mau jadi w************n? Pulang pagi hah?" bentak Adrian. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan marah. Sedangkan Venus masih memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Dari ekor matanya Venus melihat Rosi yang berdiri tak jauh dari mereka dengan senyum liciknya. "Wah, pulang pulang langsung di tampar. Apa ini juga yang di dapat Sabitha? Atau pelukan dan rasa khawatir?" ucap Venus tenang. Mata Adrian membola, dia menatap tangannya yang barusan menampar wajah Venus. Menyesal, itulah yang ada dalam pikiran Adrian. Rosi yang melihat Adrian akan luluh pun tak senang. Mata Adrian melebar dan tersadar jika apa yang di lakukannya pada Venus barusan membuat Venus semakin membencinya. "Kenapa diam saja? Apa aku salah bicara?" tanya Venus dengan wajah yang polos. Rosi mendekat ke arah Adrian dan Venus dengan wajah yang sudah di buat setenang mungkin. "Pa, biarin Venus istirahat dulu. Nanti malam kan keluarga Xafier akan datang kesini. Yang penting Venus sudah pulang, dia bisa selamatkan keluarga kita. Maafin aku dan Sabitha ya pa. Semua ini kesalahan kami dan bukan kesalahan Venus. Mungkin Venus semalam bertemu dengan kekasihnya untuk berpamitan." ucap Rosi lirih. Tapi jelas di mata Venus adalah perkataan yang membuat Adrian menatap tajam ke arah Venus. "Benar, kamu ketemu kekasihmu?" Venus menaikkan sebelah alisnya, lalu kemudian tersenyum miring ke arah Rosi "Wah, istri baru papa ini perhatian sekali ya? Kalaupun aku ketemu kekasih ku di luar sana yang penting aku tak sampai hamil lebih dahulu. Seperti anak kesayangan kalian itu. Jadi apa yang salah? Di luar negeri hidup ku seperti ini, jadi jangan kaget." Venus tersenyum mengejek ke arah Rosi yang wajahnya sudah merah padam. Rosi mengumpat Venus dalam hati karena semenjak Venus pulang dia selalu merasa jika tensi nya naik lebih tinggi dari pada biasanya. Mendengar semua yang di katakan oleh Venus, Adrian terdiam. Selama ini Adrian tak pernah mendengar Venus membuat masalah. Bahkan perusahaan yang di jalankan Venus berkembang pesat. Melihat papanya hanya diam, Venus melenggang pergi untuk naik ke kamarnya. Tapi sebelum dia benar benar pergi, Venus berhenti di sebelah Rosi lalu membisikkan sesuatu pada Rosi. "Sayang sekali, apapun yang ingin kamu lakukan kepadaku akan ku pastikan kembali kepada mu dan juga anak sialan mu itu. Cepat atau lambat, aku akan membuat kalian kembali ke tempat kalian. Di jalanan!!" ucap Venus lirih. Setelah itu, Venus pergi dari sana dengan perasaan yang puas. Berbeda dengan Rosi yang langsung berbalik ke arah Venus. Berengsek, kamu Venus. Tunggu saja pembalasan ku!! to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN