Bab 5

1036 Kata
Perdebatan panas antara Venus dan Xafier tak berkurang. Mata Xafier seperti menelanjangi Venus kali ini. Venus yang biasanya arogan di depan orang lain seperti di buat tak berkutik di depan Xafier. "Kai, lepasin...." Venus berusaha mendorong tubuh Xafier tapi ternyata Xafier semakin mempererat pelukannya pada Venus. Xafier terus memindai wajah Venus yang sudah dua kali membuatnya menggila dengan melewati malam panas mereka. Malam panas yang tak bisa Xafier hentikan begitu saja. Terlebih ternyata takdir membawa mereka bertemu. "Besok pernikahan kita akan diresmikan, dan seperti yang kamu mau pernikahan kita di rahasiakan. Tapi mereka hanya tahu jika kita sepasang kekasih!" Venus mengerutkan keningnya, tapi dia tak akan membantah dengan apa yang di tentukan oleh Xafier. Atau dia akan kesusahan nantinya. "Atur aja sesuai keinginan mu. Karena aku hanya butuh pisauku lebih tajam dari sebelumnya!" Tatapan Venus seolah menantang Xafier untuk melakukan hal keji kepada semua orang. Tanpa Venus sadari jika Venus lah yang sudah masuk ke dalam jeratan Xafier dan bergantung pada laki laki yang statusnya akan berubah menjadi suami resminya. Melihat Xafier yang mulai lengah, Venus mendorong tubuh Venus dan berlari pergi dari hadapan Xafier. "Benar benar kucing liar yang bisa berubah menjadi singa!" gumam Xafier. Venus yang baru saja masuk ke dalam kamarnya menghentakkan kakinya karena kesal dengan Xafier. Dan entah kenapa setiap kali laki laki itu memeluknya, jantung Venus seperti bermasalah. "Jantung kenapa juga seperti ini? Nggak mungkin aku jatuh cinta sama dia kan?" Venus duduk di pinggir ranjang sambil melamun. Pikirannya berkelana kemana mana saat ini. Mencengkeram kuat pinggiran ranjang seolah semua rasa sakitnya kembali berkumpul menjadi satu. Mengingat bagaimana dia di perlakukan tak adil oleh papanya. Sejak kematian sang mama, Venus selalu mendapatkan bagian sisa dari Sabitha. Anak dari istri baru papanya. Kasih sayang papanya mulai menghilang seiring dengan Venus yang mulai berani memberontak. Semakin dewasa, Venus mulai mencari tahu tentang kematian mamanya. # Di kediaman Adrian, tiba tiba Sabitha pulang dengan santai seolah tak ada apa apa. Plak.... Adrian menampar pipi Sabitha dengan keras. Sabitha menoleh ke arah papanya. "Pa, apa maksudnya papa nampar aku gini?" Adrian yang mendapat pertanyaan seperti itu tak habis pikir dengan apa yang di katakan Sabitha. "Kamu masih bisa bertanya seperti itu disaat kamu baru saja membuat masalah?" bentak Adrian keras. Rosi yang baru saja tiba dirumah pun memeluk Sabitha senang. Dia bahagia jika Sabitha sudah pulang ke rumah. Tapi ekspresi wajahnya berubah saat melihat Adrian sedang marah. Sabitha yang tak merasa bersalah pun memilih pergi dari sana meninggalkan Adrian yang tengah kalut karena ulah Sabitha. "Lihat kelakuan anakmu, dia udah bikin malu kita di depan tuan Xafier. Jika nggak ada Venus nggak tahu nasib kita akan seperti apa!!!" teriak Adrian keras. Rosi tak berani menjawab, tapi Sabitha yang masih dengar semua yang di katakan Papanya menggeram marah. Dia masuk ke dalam kamarnya lalu menutupnya dengan keras. "Apa hebatnya Venus, lagian dia kan cuma gantiin aku nikah sama tua bangka!" Sabitha terus menggerutu, dia membuka ponselnya untuk mengabari kekasihnya jika dia sudah sampai di rumah. Tak lama, Sabitha membuka media sosialnya yang tiba tiba heboh dengan berita pernikahan seorang Xafier. Awalnya Sabitha tak tertarik, tapi saat berita itu terus berseliweran barulah dia membuka beberapa berita yang ada. Matanya melotot saat melihat Venus menggandeng seorang laki laki muda yang tampan. "Tidak, apa maksudnya ini? Bukannya yang di jodohkan dengan ku laki laki tua? Bahkan yang datang dulu juga laki laki tua!" pekik Sabitha keras. Sabitha lalu memberi info tentang Xafier dan lagi lagi matanya melotot, tubuhnya lemas saat tahu siapa Xafier yang sebenarnya. "Nggak mungkin." Sabitha menatap nanar ke arah depan, pikirannya seketika kosong. Sabitha yang segera tersadar kembali bangkit dan keluar dari kamarnya. Dia mencari Rosi untuk bertanya tentang Xafier. "Ma, mama...." Rosi yang sedang berusaha menenangkan Adrian memejamkan matanya menahan amarah. "Ma, jelaskan padaku siapa Xafier yang sebenarnya?" Sabitha mengguncang bahu Rosi dengan keras. Adrian yang melihat kebingungan Sabitha merasa aneh dengan putri bungsunya itu. "Ma, kenapa diam aja. Jelasin sama aku, kenapa Xafier bisa jadi muda??" teriak Sabitha keras. Adrian dan Rosi semakin bingung dengan tingkah Sabitha yang seperti orang kesetanan ini. "Apa maksudmu? Tuan Xafier memang masih muda. Dia baru berumur 30 tahunan." jawaban Rosi bingung. Mata Sabitha mengerjap, dia terduduk lemas di lantai. Tubuhnya merosot tanpa punya tenaga lagi. Rosi merasa curiga dengan Sabitha begitu juga dengan Adrian. Lalu tak lama Sabitha kembali menjadi panik. "Ma, pa, aku mau nikah sama Xafier. Bilang sama Xafier kalau aku udah kembali. Dan Venus nggak pantas nikah sama dia. Cuma aku yang pantas sama Xafier!" Mata Adrian melotot, begitu juga dengan Rosi. Rosi meraih pundak Sabitha dan membawanya untuk duduk. Rosi memaksa Sabitha agar putrinya itu bisa lebih tenang. "Sabitha, mama nggak ngerti. Apa maksud kamu? Dan bukannya kamu kabur karena kamu nggak mau nikah sama dia?" tanya Rosi bingung. Sabitha menggeleng, dia lalu menjelaskan semuanya pada Rosi dan Adrian alasan Sabitha kabur dari rumah dan tak kembali saat Xafier datang menjemputnya. "Kamu gila Sabitha, kita nggak mungkin bisa mengatakan ini semua pada tuan Xafier!" teriak Adrian. Kepala Rosi seakan mau pecah melihat kebodohan putrinya. Hanya karena salah paham, dan Sabitha berpikir jika yang melamarnya adalah pria tua dia membuat semua kesempatan itu. "Ma, pa, aku nggak mau tahu. Kalian mertuanya, kalian nggak bisa dong kalau tunduk sama dia!" rengek Sabitha. Rosi syok, dia masih tak bisa mencerna jalan pikiran Sabitha. Dan jika dia melakukan itu pada Xafier, sama saja dengan dia menyerahkan nyawa mereka. "Jangan macam macam Sabitha, mereka sudah menikah sah dan tinggal perayaan nya!" Sabitha berdiri menatap Adrian sengit, dia harus bisa kembali ke sisi Xafier. Karena dari awal, dia lah yang di jodohkan bukan Venus. "Aku yang akan minta pada Venus buat tinggalin Xafier. Dia nggak pantas dapat laki laki seperti Xafier. Dan lagi, dari awal cuma aku yang di inginkan Xafier!" Sabitha mengatakan itu penuh percaya diri, dan setelahnya dia pergi naik ke atas kamarnya. Sabitha akan menemui kakaknya untuk menyerahkan Xafier kembali kepadanya. "Pa, ini gimana? Nggak mungkin minta tuan Xafier menukar nya kembali!" Adrian juga tak bisa menjawab apa apa. Jika sampai mereka melakukan itu, bukan tak mungkin jika mereka akan kehilangan nyawa dan juga semua harta mereka. "Ini semua karena ulahmu Rosi, harusnya kamu bisa mendisiplinkan putrimu itu agar tak membuat ulah terus menerus!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN