1. Hianat!
"Nurul, bujuk dulu anakmu. Rengekannya membuat kepala Ibu pusing," seru Bu Titik.
Nurul meletakkan ayam yang akan digorengnya, menyeka tangan, dan menghampiri pintu kassa yang sedang dipukul-pukul oleh putranya. Alfi berusaha membuka pintu. Ia pasti ingin keluar dan bermain bersama sepupu-sepupunya di taman belakang namun terhalang oleh pintu.
"Alfi, main ini saja ya?" Nurul mengambil mobil-mobilan yang dibuang Alfi sembarang di sudut pintu.
"Ibu goreng ayam dulu. Alfi suka ayam goreng kan?" bujuk Nurul lembut. Alfi menggeleng cepat. Melenguhkan suara-suara bernada bantahan sambil menunjuk Dika dan Vito yang sedang lari-lari di taman belakang.
"Main... main!" Alfi merengek. Tangan mungilnya memukul-mukul pintu.
Alfi terlahir down syndrome. Di usianya yang keenam ini jantungnya lemah dan ia kesulitan berbicara. Makanya Nurul tidak memperbolehkannya keluar. Fisiknya yang berbeda membuat Alfi kerap dibully oleh Dika dan Vito.
"Main... main... main!" Rengekan Alfi kian menjadi. Tangannya tak henti-henti memukul pintu.
"Alfi cebol, sini!" Dika—anak Dini, kakak iparnya memanggil.
"Alfi monyet, ayo kita main!" Vito—anak Rina, adik iparnya ikut melambaikan tangan sambil menirukan gaya seekor kera saat berjalan.
"Hihihi... Alfi lucu ya. Udah cebol, jalannya lucu kayak anak monyet.” Kedua anak berusia sepuluh dan tujuh tahun itu tertawa geli.
Nurul merasa dadanya diremas.
Selama ini, ia sudah terlalu sering menelan hinaan. Dari suami, mertua, ipar bahkan dari keluarga besar Atmodjo. Bisik-bisik yang menyebutnya menantu tidak berguna karena hanya menjadi ibu rumah tangga.
Selama ini ia hanya diam agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu. Namun jikalau menyangkut anaknya, lain cerita. Ia akan selalu menjadi garda terdepan untuk membela sang putra.
"Alfi tunggu di sini dulu ya, Ibu mau ke sana sebentar." Nurul membuka pintu kassa dan menutupnya kembali dengan cepat.
"Ikut... ikut!" Alfi mengamuk. Kini ia mulai menendang pintu. Nurul berbalik. Ia menghadap Alfi dan berbicara dengan tegas.
"Alfi, lihat Ibu." Melalui tirai pintu kassa Nurul menatap mata Alfi dalam-dalam. Interaksi seperti ini biasanya lebih efektif dimengerti sang putra apabila ia sedang tantrum.
"Dengar Ibu baik-baik. Tidak boleh menendang pintu karena pintunya bisa rusak. Mengerti, Alfi?" Nurul mengeja setiap kata agar Alfi memahami kalimatnya.
Alfi mengangguk takzim. "Rusak. Alfi baik." Alfi menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Alfi adalah anak Ibu yang paling baik. Tunggu di sini sebentar ya?" bujuk Nurul lembut. Alfi menggangguk. Ia kini hanya berdiri di depan pintu.
Nurul mempercepat langkah. Mendekati dua keponakan suaminya yang tengah bermain di halaman belakang.
“Dika. Vito." Nurul memanggil anak-anak itu. Nada suaranya tidak tinggi namun sarat dengan ketegasan.
Kedua anak itu menoleh. Wajah mereka masih menyisakan sisa tawa.
“Kalian tahu nggak,” katanya perlahan, "kalau kalian mengejek Alfi, itu artinya kalian mengejek Allah. Karena Alfi adalah ciptaan Allah. Seperti kalian berdua."
Dika dan Vito saling berpandangan sebelum Dika menjawab.
"Kami cuma bercanda, Tante.”
Nurul tersenyum tipis. Senyum yang pahit.
"Bercanda itu kalau orang yang mendengar ikut tertawa. Tapi kalian lihat, Alfi tidak tertawa bukan?" Nurul menunduk sedikit agar sejajar dengan mata mereka. Kedua anak itu saling berpandangan dengan gelisah.
"Kalian berdua adalah sepupu Alfi. Darah kalian sama. Harusnya kalian berdua menyayanginya. Kenapa kalian malah memilih menyakitinya?"
Langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Dini dan Rina menghampiri anak masing-masing.
"Kamu ini kenapa sih, Rul? Sama anak-anak aja hitung-hitungan. Mereka kan sudah bilang, cuma bercanda. Berarti masalah sudah selesai kan?" tegur Dini kesal. Dika yang merasa dibela segera memegang lengan sang ibu.
"Iya nih, Mbak Nurul. Namanya juga anak-anak. Mereka itu nggak punya maksud jahat kok." Rina ikut menimpali.
Nurul menghela napas sedih. Dini dan Rina tidak pernah mengajari anak-anak mereka sopan santun. Makanya keduanya tumbuh menjadi pribadi yang apatis dan nirempati.
"Dika, Vito, tidak boleh ya mengejek apalagi menghina ciptaan Allah. Dika dan Vito kan anak baik." Nurul melanjutkan menasehati Dika dan Vito tanpa mempedulikan Dini dan Rina.
"Iya, Tante," jawab keduanya bersamaan.
"Pinter. Sekarang ayo minta maaf sama Alfi. Ingat ya, menghina siapa pun, terlebih yang tidak mampu membela diri adalah salah. Dan orang yang melakukan kesalahan harus apa?" Nurul mengajukan pertanyaan dengan suara lembut namun tegas.
"Minta maaf, Tante," seru keduanya pelan setelah saling memandang.
"Pinter," puji Nurul. "Ayo, sekarang kalian minta maaf pada Alfi," ujarnya sambil menggandeng tangan keduanya menuju tempat Alfi menunggu.
"Eh, ngapain pakai minta maaf-minta maaf segala!" Protes Dini berang. Ia kemudian menarik Dika dari tangan Nurul. Rina mengikuti aksi sang kakak. Ia juga menarik Vito.
"Agar mereka tahu kalau setiap kali berbuat salah, ada konsekuensinya. Dan sanksi yang paling ringan adalah meminta maaf," ujar Nurul tegas.
"Memangnya salah Dika apa? Anakmu yang agak lain kok anak orang yang kamu salahkan." Dini berkacak pinggang. Ia tidak terima anaknya diperlakukan semena-mena di depannya.
"Mbak Dini kok gitu sih ngomongnya?" tegur Nurul dengan suara bergetar. Ia tidak menyangka kalau tega Dini terang-terangan menghina Alfi yang juga keponakannya.
"Lho memang begitu kan kenyataannya?" Dini berkacak pinggang.
"Mau penyebutannya anak surga, anak berkebutuhan khusus, anak d*********s intelektual atau apapun itu, toh artinya tetap sama — anakmu beda. Istilah-istilah itu dibuat hanya untuk menghibur diri saja," tandas Dini pedas.
"Kalau mau main salah-salahan, yang paling salah itu kamu. Karena melahirkan anak seperti Alfi. Asal kamu tahu, Ibu dan Erland jadi jarang menghadiri acara keluarga besar karena malu punya anak dan cucu tidak sempurna."
Rina yang melihat suasana memanas segera menjauh dengan membawa serta Vito. Kakak sulungnya ini jikalau emosi memang tidak bisa menyaring kata-katanya. Ia tidak mau terbawa-bawa.
Sementara itu Nurul memandang kakak iparnya dengan tatapan tidak percaya. Walau matanya berkaca-kaca, namun suaranya justru semakin kokoh.
"Mbak, kalau bisa memilih aku juga ingin Alfi terlahir cerdas dan sehat. Begitu juga dengan Alfi. Tapi semua yang terjadi di dunia ini kan atas kuasa Allah. Kami tidak bisa memilih, Mbak. Dan aku menerima dengan ikhlas keadaan Alfi karena aku menghormati hidup yang Allah ciptakan."
"Terserah kamu mau bersikap apa terhadap Alfi. Bukan urusanku. Asal jangan anakku yang kamu salahkan," lanjut Dini gusar seraya menggandeng Dika menjauh. Tapi karena masih kesal ia pun mengerutu.
"Mau disebut dengan istilah apapun memang anakmu itu i***t kok," gumamnya pelan. Dan Nurul mendengarnya.
Mendengar hinaan kasar Dini, amarah Nurul bangkit. Ia pun mensejajari langkah Dini dan berbisik pelan di telinganya. Memastikan bahwa hanya Dini yang mendengar.
"Jadi kalau aku menyebut Dika anak haram tidak apa-apa ya, Mbak? Kan Dika memang lahir di luar nikah? Mbak bilang istilah memperhalus kalimat itu tidak penting kan?" tantang Nurul berani.
Mendengar kata-kata Nurul, selebar wajah Dini menjadi merah padam.
"Ngomong apa kamu hah? Kamu menghina anakku?" Dini melepas tangan Dika. Sebagai gantinya ia menarik rambut panjang Nurul.
Tak mau kalah Nurul berbalik dan balas menjenggut rambut Dini. Ia bahkan menjatuhkan Dini ke tanah. Amarah membuat tenaganya bertambah dua kali lipat.
Dika yang ketakutan, berlari ke dalam rumah. Berteriak memanggil oma dan tantenya.
"Bagaimana rasanya saat mendengar anak kita dihina, Mbak? Sakit kan? Itulah yang aku rasakan!" desis Nurul dengan napas tersengal. Ia menduduki Dini dengan kedua tangan masih menjambak rambutnya.
"Dasar... kurang ajar. Lihat saja, sebentar lagi kamu pasti akan diceraikan Erland!"
Dini balas memaki dengan suara ngos-ngosan. Kulit kepalanya serasa akan lepas. Ia tidak menyangka kalau Nurul yang biasanya lembut bisa seberingas ini.
Sejurus kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki diiringi suara teriakan kaget.
"Astaghfirullahaladzim. Kalian berdua ini kenapa sih?"
Suara ibu mertuanya.
Tapi Nurul tidak peduli. Ia tetap mencengkram erat rambut Dini. Sakit hatinya belum tuntas.
"Ayo kita pisahkan mereka, Rin!" Bu Titik menarik Dini sementara Rina menjauhkan Nurul. Keduanya pun terpisah.
Dini berdiri terhuyung-huyung dengan rambut awut-awutan. Sementara Nurul berdiri gagah. Tatapannya membara. Keduanya saling memandang penuh kebencian.
"Kalian ini kenapa sih? Udah tua malah berkelahi di depan anak-anak!" tegur Bu Titik keras.
"Mbak Dini tega mengatai Alfi i***t, Bu. Aku tidak terima!" Nurul menatap Dini dengan mata menyala.
"Nurul juga mengatai Dika anak haram. Impas kan, Bu?" Dini tak mau kalah. Namun ada rasa gentar di hatinya. Nurul telah berubah menjadi singa yang siap mencabik-cabiknya.
"Siapa yang duluan memprovokasi? Mbak kan?" Emosi Nurul kembali terpancing. Ia pun merangsek maju.
"Sudah, Mbak. Jangan diperpanjang. Malu sama anak-anak. Dilihatin Alfi juga lho itu," bujuk Rina sambil menahan laju tubuh Nurul. Ia tahu hanya Alfi lah yang bisa meluluhkan hati kakak iparnya.
"Kalian berdua itu sama-sama salah bicara. Sudahlah saling bermaafan saja. Jangan membuat kegaduhan di hari ulang tahun Ibu. Bisa kan?" Bu Titik mengambil jalan tengah.
Sebenarnya ia tahu siapa yang bersalah. Tetapi darah tetaplah darah. Sebagai seorang Ibu ia tetap membela anaknya.
"Dini, ayo minta maaf pada Nurul. Dan kamu Nurul, minta maaf juga pada Dini." Bu Titik memberi kode pada Dini melalui tatapan mata.
"Maaf," ucap Dini sambil melengos. Ia mengerti kalau ibunya mencoba menyelamatkan harga dirinya. Karena ibunya juga meminta Nurul untuk minta maaf.
"Aku juga minta maaf," ucap Nurul datar. "Tapi kalau Mbak menghina Alfi lagi, aku tidak akan tinggal diam," ancam Nurul dingin.
"Aku cuma... "
"Sudah, Dini." Bu Titik memotong kata-kata Dini yang masih mencari alasan
Suasana menegang. Tidak ada yang benar-benar mengalah.
Lalu tiba-tiba—
"Surprise! Selamat ulang tahun Ibu!"
Suara ceria seorang wanita memecah udara. Mereka berempat spontan menoleh.
Dan saat itulah dunia Nurul berhenti.
Pintu samping tiba-tiba terbuka. Dan di ambang pintu berdiri Erland. Suaminya. Yang katanya masih di luar kota dan tidak bisa datang ke ulang tahun ibunya.
Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun hamil berwarna merah muda tengah memegang sebuah kue ulang tahun. Melihat kehadiran Nurul, ia jadi rikuh dan nyaris jatuh tergelincir. Tangan Erland tampak refleks menopang punggung wanita yang tengah hamil besar itu.
Nurul menatap wajah si wanita yang sepertinya familiar. Dalam waktu beberapa detik saja langsung mengenalinya.
Dia adalah Natasya. Mantan pacar Erland.