Sonya berdiri di depan rumah besar itu sambil merapikan rambutnya, sisa amarah sejak kemarin masih terasa di dadanya. Ia benar-benar tidak ingin melihat Keandre hari ini. Omongan laki-laki itu, ditambah foto mesra bersama Alena, masih menusuk harga dirinya. Namun langkah Sonya tidak gentar. Ia datang bukan untuk Keandre. Ia datang untuk seseorang yang lebih matang, lebih mapan, dan jelas lebih menguntungkan. Darren. Saat ia baru melangkah mendekati pagar, seorang satpam menghampirinya dengan sopan. “Maaf, Non. Den Keandre lagi nggak ada di rumah.” Sonya melirik singkat ke arah rumah, lalu kembali ke satpam itu. “Iya, aku tau. Memang bukan mau ketemu Keandre.” Satpam itu diam sejenak, menunggu penjelasan. Sonya menurunkan nada suaranya, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sensitif

