Telepon Di tengah Malam
Aroma parfum bercampur dengan sisa alkohol di sudut bibir Nathan. Tanpa meminta izin, pria itu menyambar bibir Naomi dengan rakus. Naomi menggeleng pelan sebagai bentuk penolakan, namun tenaga sang kepala divisi jauh lebih besar. Terlebih saat tangan Nathan mulai melepas kancing teratas blus Naomi, lalu menindih gadis itu di atas ranjang king size hotel tersebut.
"Pak Nathan... tolong, sadarlah," lirih Naomi, mencoba mencari secercah kewarasan di balik sorot mata atasannya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah serangan yang kian menggila.
Naomi memejamkan mata rapat-rapat. Ini adalah kali pertamanya. Ada perasaan asing menjalar di dadanya, sensasi yang tak mampu ia definisikan. Hingga akhirnya, pertahanan yang selama ini ia jaga hanya untuk suaminya kelak, runtuh begitu saja di bawah kendali Nathan.
"Ah..." Naomi meringis, mencoba memohon belas kasih, namun Nathan justru semakin hilang kendali mendengar rintihan yang lolos dari bibir tipisnya.
"Kau cantik sekali, Naomi..."
Naomi membeku sejenak. Pria itu memanggil namanya—bukan lagi Laura, seperti yang diucapkan pria itu saat mereka pertama kali tiba di kamar ini. Namun, desakan rasa yang membuncah di tubuhnya, perpaduan antara buaian manis dan sentuhan kasar Nathan, membuat Naomi tak lagi mampu berpikir jernih. Ia tak lagi sanggup mempermasalahkan perihal nama itu. Ia larut sepenuhnya dalam buaian gila Nathan di tengah malam ini, seiring rasa perih yang perlahan memudar, berganti dengan kenikmatan yang tak sanggup ia lukiskan dengan kata-kata. Nathan lagi-lagi menggila, mulai menggigit dan menghisap area sensitif Naomi yang membuat Naomi melenguh hebat.
Dengan cepat Nathan menarik tubuh Naomi hingga terduduk. Gadis itu kini duduk di pangkuan Nathan. Pria itu memperdalam sentakannya, Naomi semakin meringis ketika pria itu menuntun b****g Naomi agar naik turun dengan sentakan yang pelan namun semakin lama semakin kencang.
"Pakkkh Nath....." Naomi memejamkan matanya, tak ada lagi rasa perih yang semula terasa seperti terbakar. Kini yang ada hanya rasa nikmat bercampur geli dan sedikit linu setiap kali Nathan mempercepat sentakannya.
Nathan semakin hilang kendali, di antara racauannya yang terus memanggil nama Naomi, pria itu menatap pada d**a Naomi yang penuh, berguncang namun tetap padat dan membulat sempurna. Sangat indah.
"Akh..aku hampir klimaks, Naomi.." sentakan itu semakin cepat beriringan dengan suara Nathan yang mulai parau dan meracau.
"P-pak.. jangan di dalam.." permohonan Naomi terlambat. Nathan telah mencapai puncaknya seiring dengan rasa hangat yang Naomi rasakan, mengalir hingga ke pembuluh darahnya.
***
Dengkuran halus beradu dengan detak jantung Naomi yang masih tidak beraturan. Nathan telah terlelap di sampingnya, terbungkus selimut yang sama.
Naomi merogoh ponsel di nakas, jarinya gemetar saat melihat layar menyala. Pukul dua dini hari. Ada sisa rasa perih yang masih menjalar di tubuhnya—sebuah bukti nyata atas apa yang terjadi malam ini. Naomi telah kehilangan segalanya, hal yang ia jaga setengah mati. Namun, di balik rasa jijik dan penyesalan yang mendalam, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya mengutuk diri sendiri karena sempat menikmati permainan pria itu.
Ingatannya melayang pada awal mula kekacauan ini.
Tepat pukul dua belas malam, ia baru saja hendak merebahkan diri saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Suara asing dari bar kecil di dekat kantor mengabarkan kondisi Nathan yang mabuk berat. Mereka mengira Naomi adalah kekasih pria itu karena nama Naomi menjadi kontak yang paling sering dihubungi di ponsel Nathan.
Naomi tahu betul atasannya itu tidak memiliki toleransi terhadap alkohol. Tanpa pikir panjang, ia bergegas menyusul ke sana dan mendapati Nathan tergeletak dalam kondisi setengah sadar. Dengan niat tulus untuk membantu, Naomi memesan taksi dan membawa pria itu ke hotel terdekat—satu-satunya langkah yang terpikirkan karena ia tidak tahu alamat rumah Nathan dan tidak ingin ada rekan kantor yang melihat kondisi sang kepala divisi yang memalukan ini.
Naomi hanya ingin menyelamatkan reputasi atasannya. Namun, keputusannya malam ini justru menjadi bumerang yang menghancurkan hidupnya sendiri.
Setelah bellboy pergi, Naomi mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ia memapah Nathan menuju tempat tidur berukuran king size dan merebahkan tubuh besar itu di sana. Dengan telaten, Naomi melepaskan sepatu pantofel mewah Nathan yang kotor, lalu melonggarkan kerah kemejanya agar bosnya bisa bernapas dengan lebih lega.
Baginya, tugasnya malam ini sudah selesai. Naomi bersiap membalikkan badan untuk mengambil handuk kecil dari kamar mandi guna mengompres dahi Nathan sebelum ia memutuskan tidur di sofa. Namun, sebuah tarikan kuat dan mendadak mendarat di pergelangan tangan kanannya. Naomi terpekik kecil ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan dan tertarik jatuh tepat di atas d**a bidang Nathan.
Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan tajamnya alkohol mengepung indra penciuman Naomi. Sebelum ia sempat menjauhkan diri, sepasang lengan kekar Nathan sudah melingkar erat di pinggangnya, mengunci tubuh Naomi agar tidak bisa bergerak.
"Laura... kamu kembali..." racau Nathan dengan suara serak, matanya yang sayu dan merah perlahan terbuka, namun pandangannya jelas kosong dan terdistorsi oleh ilusi mabuk.
Naomi tertegun, jantungnya berpacu liar karena posisi mereka yang terlalu intim.
"P-Pak Nathan, ini saya, Naomi. Saya sekretaris Anda, bukan Bu Laura. Tolong lepaskan saya, Pak," bisik Naomi panik, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Nathan pada pinggangnya.
Namun, kekuatan pria yang sedang frustrasi itu jauh mematikan. Nathan justru mempererat pelukannya, membawa wajah Naomi semakin dekat ke wajahnya. Tatapan mata Nathan malam itu begitu rapuh, dipenuhi oleh kepedihan mendalam yang belum pernah Naomi lihat sebelumnya dari sosok bosnya yang arogan.
"Jangan pergi lagi, Laura... kumohon," bisik Nathan lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang pecah.
"Aku tidak peduli tentang Paris. Aku tidak peduli tentang karirmu. Aku bisa membelikanmu studio apa saja yang kamu mau di sini... Tolong, jangan batalkan pernikahan kita. Aku sangat mencintaimu..."
Seketika itu juga, Naomi membeku. Informasi mengejutkan itu menghantam kepalanya laksana guntur. Pernikahan dibatalkan? Jadi, ini alasan mengapa pria sehebat Nathan hancur lebur malam ini?
Belum sempat Naomi mencerna rasa syoknya, jemari tangan kanan Nathan bergerak naik, membelai lembut pipi Naomi dengan kehangatan yang membuat bulu kuduk Naomi meremang. Tatapan mabuk Nathan terkunci pada bibir Naomi. Dalam benak Nathan yang sudah kacau dikuasai alkohol, wanita berambut legam di atas pelukannya ini adalah Laura, satu-satunya wanita yang ingin ia miliki seumur hidupnya.
"Laura... maafkan aku kalau aku terlalu mengekangmu," gumam Nathan pelan, wajahnya bergerak mendekat dengan perlahan namun pasti.
Naomi membelalakkan matanya, napasnya tertahan di tenggorokan. Jarak di antara wajah mereka kini terkikis habis, menyisakan embusan napas hangat Nathan yang beraroma mint dan alkohol di permukaan kulit wajah Naomi. Di bawah temaram lampu kamar hotel, Naomi menyadari bahwa situasi malam ini telah bergulir jauh di luar kendalinya sebagai seorang sekretaris.