Laura masih duduk bersandar di ujung ranjang, pandangannya kosong menatap lantai kamar. Suara tawa Jihan yang samar terdengar dari ruang tamu entah kenapa membuat dadanya semakin sesak. Bayangan kejadian di kafe tadi siang terus berulang di kepalanya. Di meja samping tempat tidur, ponsel Laura tiba-tiba berdering. Getaran dan suara nada dering itu memenuhi kamar yang sunyi. Nama Mina muncul berkali-kali di layar. Laura hanya menatap layar itu sekilas, lalu menghela napas panjang. Dengan gerakan lambat, ia meraih ponselnya. Jemarinya sempat ragu ingin mengangkat, tapi rasa lelah dan amarah membuatnya mengurungkan niat. Alih-alih mengangkat, Laura menekan tombol samping hingga layar mati. Ponselnya ia letakkan lagi di meja, membiarkannya sunyi. “Cukup… aku capek,” gumamnya pelan. Laura l

