Bus berhenti perlahan di area parkir taman kota yang luas dan penuh pepohonan rindang. Anak-anak bersorak kegirangan, tak sabar untuk turun dan berlari-larian. Para orang tua satu per satu mulai berdiri dan menuruni tangga bus. Laura, yang masih duduk di kursinya, ragu sejenak sebelum ikut berdiri. Saat langkahnya mencapai tangga bus, Raihan yang berdiri di bawah menoleh ke arahnya, mengulurkan tangan tanpa banyak bicara. Laura menatapnya canggung, namun akhirnya menerima uluran itu. Sentuhan singkat itu membuat d**a Laura berdebar aneh, sementara senyum tipis Raihan membuatnya makin salah tingkah. Begitu kakinya menapak tanah, Jihan sudah berlari ke arah teman-temannya sambil tertawa riang. “Mama, Abi! Aku main dulu, ya!” serunya ceria sebelum ikut berbaur dalam kerumunan anak-anak yang

