Perjalanan pulang dari taman terasa berbeda. Anak-anak yang semula riuh kini terlelap kelelahan, membuat suasana bus hening. Laura duduk di dekat jendela, memangku Jihan yang tidur pulas dengan napas teratur. Di sampingnya, Raihan duduk diam, namun bahu mereka sesekali saling bersentuhan setiap kali bus berbelok. Canggung. Hanya itu yang bisa Laura rasakan. Ia ingin sedikit menjauh, tapi Jihan yang berada di pangkuannya membuatnya tak leluasa bergerak. Raihan memperhatikan hal itu. “Pegal?” tanya Raihan pelan, nadanya hati-hati. “Kalau pegal, biar Jihan aku yang pangku.” Laura menoleh sebentar, lalu cepat-cepat kembali menatap ke luar jendela. “Enggak… aku baik-baik aja,” jawabnya lirih. Tak ada percakapan lagi setelah itu. Hanya suara mesin bus dan hembusan angin sore yang masuk dari

