Pagi itu rumah terasa berbeda. Bias cahaya matahari menembus jendela, menari di lantai kayu ruang tamu. Aroma teh hangat yang baru saja diseduh memenuhi udara. Laura berdiri di dapur, masih kikuk memegang spatula di tangannya. “Telurnya jangan terlalu lama,” suara Raihan terdengar dari meja makan. Ia tersenyum kecil, menatap Laura yang berusaha menggoreng telur dadar. Laura melirik cepat. “Aku tahu kok…” jawabnya, meski wajahnya merah karena tadi sempat hampir gosong. Jihan duduk di kursi, kakinya bergoyang-goyang sambil menunggu. “Mama masak? Wah, hebat!” serunya riang. Pujian polos itu membuat Laura tersenyum. Ada rasa bangga meski hanya membuat sarapan sederhana. Ia menaruh telur dadar di piring, lalu meletakkannya di meja. “Nih, jangan bilang nggak enak, ya.” Raihan mengambil poto

