Suasana mushola sore itu terasa hangat. Lantai berlapis karpet hijau lembut, bau khas parfum kayu gaharu memenuhi udara. Ibu-ibu sudah duduk melingkar dengan mukena dan jilbab beraneka warna. Suara mereka riuh rendah, bercampur antara obrolan ringan dan tawa kecil. Laura berdiri di depan pintu, ragu. Tangannya meremas ujung gamis, bibirnya menelan ludah berkali-kali. Ia merasa semua mata tertuju padanya, meskipun kenyataannya tidak ada yang benar-benar menatap. “Laura, mari masuk.” Suara lembut Bu Halimah terdengar dari dalam. Ia melambaikan tangan, menyambutnya dengan senyum ramah. Pelan-pelan, Laura melangkah masuk, duduk di pinggir lingkaran. Beberapa ibu sempat melirik, ada yang tersenyum, ada pula yang sekadar menunduk lagi. Laura mencoba tersenyum kaku, jantungnya berdetak kencan

